BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ ist.

serat.id – Kiprah Marco Kartodikromo di dunia jurnalistik benar-benar membawakan suara dan perjuangan kaum Hindia tidak mudah dihentikan begitu saja. Marco bahkan dengan gagasan tulisan berbahasa Melaju ia mendirikan Inlandsche Journalis Bond (IJB) di Surakarta pada pertengahan 1914.

“Pada awal kehadiran Marco Kartodikromo, atau lebih akrab dalam dunia pergerakan sering disebut sebagai Mas Marco, berawal dari kesadaranya memahami realitas sosial yang timpang,” kata Takhasi Siraishi, dalam bukunya Zaman Bergerak.

Kehadiran Marco dengan kondisi situasi masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, makin sulitnya kebutuhan pangan serta munculnya pengangguran di berbagai daerah. Serta menjamurnya gerakan perlawanan yang terorganisir dalam wadah organisiasi keagamaan maupun perkumpulan kaum kromo yang sadar realitas menjadikan ia mengenal alur berorganisasi dan tulis menulis.

Mas Marco mengalami kondisi yang sama dengan apa yang dialami oleh pemuda Hindia saat itu. Takhasi menyebut adanya “krisis pemikiran” oleh realitas sosial yang dikonfrontasikan dengan pengetahuanya dari ide-ide politik dunia Barat dengan realitas-realitas kejam di stasiun-stasiun kereta dan pabrik ketika, sang Boemiputra harus diam menerima maki-makian dan tamparan-tamparan dari tuan kulit putih.

Orang yang paling mempengaruhi pikiran dan tindakanya dan membawa ia terjun di dunia jurnalistik saat ia magang Medan Prijaji adalah Tirtoadi Adhisurjo dan Soewardi. Selain sebagai senior, mereka sebagai teman dekat yang membimbing.

Berbekal dari perjalanan dan pertemuanya dengan tokoh-tokoh yang disebutkan di atas inilah, Marco tidak hanya menjadi pekerja di dunia jurnalistik, namun bermain ganda sebagai manusia yang terjun ke dunia pergerakan.

Di Surakarta ia mengikuti jalan pikiran kedua tokoh yang pernah membimbingnya ; Tirtho Adhisurjo dan Soewardi dengan cara menerbitkan surat kabar sendiri dan mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Komitmen perlawanan yang dijalankan dalam dunia pergerakan yang menjelma sebagai jurnalis tangguh dilakukan Mas Marco dengan semangat yang luar biasa. Ia membawa ideologi pers yang benar-benar menyuarakan kondisi publik, kadang ia menerbitkan surat kabar sendiri dan mengatakan apa yang ingin ia katakan, tanpa menyimpan sesuatu.

Sikapnya yang terbuka baik dalam tulisan maupun agitasi-agitasi dalam mimbar vergadering, merupakan tampilan sosok satria sejati, dibanding yang lain yang mesti ditutup-tutupi ketika dalam pengawasan aparat pemerintah.

Hal ini dijelaskan Takhasi Siarishi dalam perbandinganya antara Marco dan Tjokroaminoto ; Tidak seperti Tjokroaminoto, seorang satria “di bawah perlindungan pemerintah“ yang hanya perlu membuka suara. “Marco harus “berteriak” dan menyerang pemerintah sebagai satria sejati ,” kata Takhasi.

Tak heran selama kurun waktu 1915 hingga 1920 ia masuk penjara di Semarang dari Juli 1915 sampai Maret 1916, kemudian setelah singgah lima bulan di Belanda, ia masuk penjara lagi di Weltevreden, dari Februiari 17 sampai Februari 1918.

Penulis: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here