BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ ist.

serat.id – Ia nyaris dilupakan, namanya tak masuk dalam sejejer pahlawan yang selalu dikenang. Serat mencoba merekontruksi kondisi masa silam sebagai data sejarah dan menggunakan telaah psikoanalisis.

Marco Kartodikromo tidak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Dengan kerangka analisis kritis historis pemikiran Marco Kartodikromo tidak berarti mutlak berbeda dengan pemikiran tokoh gerakan pada massanya, baik Misbach sang mubalik revolusioner, K.H Ahmad Dahlan seorang ulama yang menanamkan nilai-nilai modernisasi, maupun Tirto Adi Soerjo sebagai simbol intelektual Bumiputra.

Atas dasar perbadingan tersebut, analisis pemikiran Marco Kartodikromo berangkat dari beberapa sudut pandang dalam meletakan pemikiran secara proposional. Sudut pandang tersebut diantaranya ; Dilihat dari sudut pandang hubungan dalam dimensi tempat dan waktu, pemikiran Marco Kartodikromo memiliki sifat kontektual dengan kondisi masyarakat Jawa pada masa memasuki abad 20, terlebih situasi lingkungan sosial.

Karakteristik radikalisasi pemikiran yang di tuangkan dalam karya tulis dan surat kabar, dapat ipahami sebagai refleksi kritis atas situasi lingkungan yang dianggap telah melakukan ketimpangan karena adanya sistem kolonialisasi.

Sikap kritis yang dilakukan Marco melalui tulisanya pada surat kabar adalah sebagai upaya menciptakan perlawanan terhadap tatanan ada yang dibangun oleh penguasa beserta aparatur kekuasaanya. Tipe pemikiran ini memiliki kemiripan dengan Ali Syariati1 di Iran pada era lima puluhan. Dengan segala kemampuan intelektual yang di peroleh mampu mengerakan kekuatan oposisi terhadap kekuatan tiran.

Jika Ali Syariati memiliki kemampuan intelektual diatas rata-rata, dengan pemahaman Islam sebagai fondasi keilmuan sejak sekolah dasar serta menggunakan isue-isue sosial yang dihadapkan pada tek kitab suci.

Maka, Marco Kartodikromo dipengaruhi lingkungan yang ada kemudian mengembalikan pada kearifan yang terjadi pada masyarakat tersebut sebagai bagian dari kerangka tatanan sosial.

Sedangkan dilihat dari sudut pandang hubungan dengan kelompok sosial lain, dalam hal ini lebih pada kelompok kooperatif pro kemapanan. Bisa dikatakan pada waktu itu Boedi Oetomo dan Muhammadijah, pemikiran Marco Kartodikromo melalui media massa memiliki semangat yang eklusif karena ia berusaha menciptakan pola perubahan masyarakat radikal sebagai bentuk perlawanan dalam memperjuangkan kesamaan status, baik dalam kesamaan ekonomi maupun derajat kemanusiaan.

Penulis: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here