BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ist.

serat.id – Nama lengkapnya Marco Kartodikromo, lahir dari keluarga priyayi rendahan dari Cepu, sebuah kawasan di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sulit menemukan bukti tertulis yang menerangkan tentang hari tanggal dan bulan kelahiranya. Sejumlah peneliti sejarah seperti Takashi Shiraisi maupun Soe Hok Gie menulis bahwa Marco Kartodikromo dilahirkan sekitar tahun 1890 di Cepu.

Marco dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan yang hidupnya banyak dimanifestasikan dalam jurnalis. Hal itu dipengaruhi situasi saat itu yang tak lepas suasana pegerakan. Tak jarang Marco keluar masuk bui membuat ia kurang begitu dikenal secara runut. Dalam pengantar karya Mas Marco ; Hubungan Orang Buangan Di Boven Digul. Koesalah Soebagyoe Toer menjelaskan, biasanya dikatakan bahwa ia anak seorang lurah, lahir di Cepu, Blora.

“Kemungkinan paman sekaligus sponsor Marco dalam pergerakan adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo,” kata Koesalah Soebagyoe Toer dalam pengantar karya Mas Marco ; Hubungan Orang Buangan Di Boven Digul.

Diketahui dalam sejarah Sekarmadji sebagai tokoh sentral DI (Darul Islam). Selain itu, karena minimnya catatan, kadang ada tulisan yang menyatakan Marco baru berusia dua puluh tiga tahun sewaktu dibuang ke Boven Digoel. Hal ini sungguh patut diragukan bila dikaitkan dengan tulisan Koesalah Soebagyoe Toer karena ketika Boven Digoel dibuka pada tahun 1927.

Bila waktu itu Marco Kartodikromo berumur dua puluh tiga tahun, maka ia lahir pada tahun 1904. Padahal pada tahun 1912 berarti berumur delapan tahun Marco sudah belajar dan membantu Mas Tirto Adhisoerjo di Bandung, dan pada tahun 1913 berarti saat usia 9 tahun sudah menulis di Sarotomo.

Yang paling masuk akal adalah dari Takhashi Siaraishi yang menyatakan kelahiran Marco Kartodikromo adalah tahun 1890. Takhashi menjelaskan Marco Kartodikromo lulus dari sekolah Bumi Putra angka dua Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Ia kemudian memasuki dinas kehutanan sebagai juru tulis rendah sekitar 1905.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Semarang dan menjadi juru tulis di NIS, sambil belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda yang menjadi guru privatnya. Pada tahun 1911 merupakan dunia baru yang mengubah hidupnya, saat ia memasuki dunia jurnlistik. Ketika meninggalkan Semarang menuju ke Bandung bergabung dengan surat kabar Medan Prijaji di bawah pimpinan Tirto Adisoerjo. “Dari Medan Priyayi inilah bekal awal ia mengasah diri sebagai seorang jurnalis,” kata Soebagyo I.N, Jagad Wartawan Indonesia.

Dalam perjalanan Marco dikenal sebagai seorang jurnalis sekaligus menjelma sebagai aktivis dan pimpinan pegerakan. Ia memiliki beberapa peran strategis dalam hal perlawanan kepada sistem, namanya sejajar dengan tokoh pergerakan pada masanya sebagai bagian kekuatan kelompok radikal di mata pemerintah kolonial seperti, Tirto Adisurjo, Haji Samanhoedi, Tjokro Aminoto, Goenawan, dan Semaoen.

“Saat ia bergabung pada Medan Prijaji dibawah pimpinan Tirto Adi Suryo, Marco sebagai magang,” kata Soebagyo.

Medan Prijaji bangkrut pada tahun 1912, membuat ia bergabung pada Sarotomo pada akhir 1912 sebagai editor dan administrator. Itu ia lakoni atas undangan Marthodarsono.

Keberadaannya sebagai seorang jurnalis makin kuat ketika ia bergabung ke dunia pergerakan. Berbekal pengalaman saat di Bandung dengan bimbingan Trito Adisoerjo dan Soewardi sebagai teman dekatnya sekaligus guru yang baik, ia banyak menimba ilmu dari kedua orang tersebut.

Penulis: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here