BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ist.

serat.id – Desember 1921 saat dalam pengasinganya dari dunia pergerakan Marco untuk sekian kalinya mesti menerima tuduhan persdelict untuk tulisanya “Rahasia Keraton Terbuka”, “Matahariah”, dan artikel- artikel dalam jurnal pemimpin.

Begitulah hari-hari suram dialami Marco sebagai aktivis pergerakan dan jurnalis tangguh. Alam kolonialisasi dan menjamurnya dunia pergerakan bagian dari perjalanan dan kisah pahit yang dilalui Marco Kartodikromo.

Bahkan begitu pahitnya jalan berliku yang dialami telah membawa ia keluar masuk penjara. Lebih dari itu, di akhir hayatnya ia mesti kehilangan segalanya. Aktivitasnya, karyanya bahkan nyawanya mesti menjadi taruhan saat ia terserang Malaria Hitam dan TBC di Boven Diogoel. Ia wafat di tanah merah papua membawa ideloginya.

Ia mulai terasing oleh komitmen perlawanan yang dijalankan dalam dunia pergerakan yang menjelma sebagai jurnalis tangguh dilakukan dengan semangat yang luar biasa. Ia membawa ideologi pers yang benar-benar menyuarakan kondisi publik, kadang ia menerbitkan surat kabar sendiri dan mengatakan apa yang ingin ia katakan, tanpa menyimpan sesuatu.

Jauh sebelum 1921 ia sering keluar masuk penjara, kurun 1915 hingga 1920 mulai di Semarang Juli 1915 sampai Maret 1916, kemudian setelah singgah lima bulan di Belanda, ia masuk penjara lagi di Weltevreden, dari Februiari 17 sampai Februari 1918. Saat Marco keluar dari penjara pada pertemgahan 1916, Gunawan sempat mengirim dia ke Belanda sebagai koresponden khusus Pantjaran Warta.

Namun diakhir tahun 1921 saat dalam pengasinganya dari dunia pergerakan itulah ia kembali menerima tuduhan persdelict dari tulisanya “Rahasia Keraton Terbuka”, “Matahariah”, dan artikel- artikel dalam jurnal Pemimpin.

Penulis: EDI FAISOL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here