BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ist.

serat.id – Marco kembali ke Semarang ketika SI sedang dalam sikap radikal dan sebagian ditinggalkan oleh kadernya yang pro Tjokro Aminoto. Tepatnya pada tanggal 28 Februari 1918 ketika Moh. Joesoef meninggalkan Sinar Djawa disusul di kemudian oleh Aloei dan Martowidjojo dari kalangan SI Semarang.

Soe Hog Gie dalam bukunya Di Bawah Lentera Merah, menyebutkan Marco muncul di Semarang  menjabat sebagai pejabat president SI bersama dengan Darsono menjabat sebagai komisaris.

Hal yang sama dialami oleh aktivis SI Semarang, saat itu Mas Marco selain aktiv di media massa Sinar Djawa juga menjadi aktivis pergerakan yang mesti turun ke jalan menjalankan aksi mogok demi solidaritas buruh percetakan.

Gie menyebut modernisasi organisasi dengan beragam agenda dan struktur memberikan peluang yang baik bagi dinamisasi pergerakan yang ada saat itu.

Perlu diketahui persoalan dualisme keanggotaan dan tentunya berdampak terkontaminasi ideologi menjadikan tidak sehatnya komunikasi yang baik antar pimpinan. Termasuk munculnya perpecahan antara SI merah di bawah Semaoen dan SI putih di bawah Tjokro Aminoto.

Lebih ironis dari kondisi yang ada justru mejadikan pemberangusan Marco secara penuh baik gagasan, bahkan jiwanya yang mesti melayang dalam pengasingan di Bowen Digoel di kemudian waktu.

Dalam bukunya Zaman Bergerak, Takhasi Siaraishi memberikan penjelasan posisi Marco sebagai satria yang senantiasa mementingkan arti pergerakan ketimbang perpecahan dalam konsolidasi kelompok radikal.

Hal ini terbukti Pada saat masa kefakuman SI Surakarta oleh pindahnya hoofbestuur CSI ke Surabaya dan krisis keuangan oleh perang bahan mentah pengaruh perang dunia pertama, telah menjadikan konsentrasi anngota yang sebagian besar pedagang batik Lawean lebih konsentrasi pada bisnis mereka.

Dengan begitu banyak di antara mereka yang sejak awal menjadikan SI sebagai organisasi paguyuban telah ditinggalkan.Banyak diantara anggota SI lebih mementingkan usaha perdagangan mereka ketimbang SI. Namun sejumlah pedagang batik dan  guru ngaji di bagian tengah kota, “Khususnya di Kauman dan Keprabon tetap aktif, tetapi aktivitas mereka umumnya diarahkan untuk memajukan Islam,” kata Takhasi.

Di sisi lain kekuatan pimpinan SI tinggal para jurnalis muda beralih menjadi pimpinan pergerakan. Pada saat itulah Marco dan Sosrokoernio yang masih komitment dan tetap menjalankan SI, meski tanpa surat kabar yang diedit dan organisiasi yang dijalankan.

Demi mengembalikan kejayaan SI, Marco mencukupi kebutuhan sebagai editor surat kabarnya Martodarsono, dan mengumpulkan dana melalui pertunjukan wayang orang, dan sambil terus melakukan internalisasi nilai melalui vergadering-vergadering  atau rapat bebas dan diskusi dengan anggota baru.

Penulis: EDI FAISOL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here