BERBAGI
Marco Kartodikromo
Marco Kartodikromo/ist.

serat.id – Tulisan Marco yang begitu luas dan rumit sulit dipahami jika dihadapkan pada persoalan sekarang. Namun dengan sejumlah literatur yang ada, menunjukan pemikiran Marco sebagai sikap jurnalis radikal di era kolonial.

Di antaranya tulisan roman dan cerita bersambung berjudul Matahariah yang ditulis secara episode di Sinar Djawa.  Matahariah sulit ditemukan datanya secara utuh dan lengkap karena file-file yang ada telah rusak dan sebagian musnah. Namun dari sedikit data tersebut dapat penulis pahami bahwa sebuah alur tentang keinginan Marco untuk menemukan jati diri tanah Hindia yang merdeka, mulia  dan keteraturan serta harapan lepas dari kolonialisme.

Sedangkan dalam novel Student Hidjo Marco menulis roman sastra tentang kehidupan kelompok priyayi yang mampu meraih pendidikan tinggi, juga kesadaranya untuk peduli pada masayarakat Hindia dengan aktiv di SI.  Dalam tulisan tersebut Marco juga menyinggung kondisi kehidupan Belanda yang dianggap bermoral rendah.

Selama ditahan di Boven Digul Marco menulis Hubungan Orang Buangan di Boven Digul. Tulisan itu ia tulis saat   mendekati ajal,  berisi tentang kehidupan orang buangan di Bovendigoel, kondisi yang begitu pedih digambarkan secara ironis oleh Marco tentang kejamnya sistem kolonial yang mengasingkan kaum pergerakan dan kerasnya belantara Papua. Marco menilai siapa pun yang datang di Digul dipastikan tak akan bisa kembali.

Sedangkan dalam bentuk artikel, tulisan Marco pernah dimuat dia massa kala itu, di antaranya dalam koran Doenia Bergerak nomor 1 tahun  1914 dengan judul Marco ; Pro Of Cantra Dr Rinkes.

Tulisan ini menjadi head line di media massa Doenia Bergerak hingga kemudian menjadi Head Line di Sinar Djawa dan beberapa media massa lain karena ada tanggapan balik dari Dr Rinkes membangun opini masing masing. Dalam tulisan tersebut Marco mengkritik Ringkes dan welvaarcommissie yang tak mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang meneliti kondisi masyarakat Hindia.

Tulisan lain berkarakter sosial berjudul  Mata Gelap ; Tjerita Jang Soenggoeh Terjadi di Tanah Djawa, diterbitkan di Bandung tahun 1914. Tulisan  itu berisi tentang kemiskinan pada masyarakat Hindia terlebih kondisi masyarakat Jawa oleh kebijakan pemerintah pada masyarakat pedalaman yang belum mampu mengakses pelayanan kesehatan dan kesejahteran.

Sedangkan di harian Sarotomo tahn  1915 Marco  menulis Boekan Persdelict Tapi Klacdelict, tulisan ini berisi tentang pledoi dia yang ditujukan kepada masyarakat atas tuduhan dari comissi pengadilan. Tulisan tersebut menimbulkan simpati dari banyak kalangan pergerakan selain Darsono juga ada simpati dari kalangan ISDV yaitu Sneevlit memberikan bantuan sebagai bentuk solidaritas sesama kaum pergerakan.

Sejumlah catatan harian juga ia tulis dengan “Keloear Dari Penjara, di harian Sinar Djawa, 28 hingga 29 Februari 1916, selain itu ia juga menulis “Banjak Terima Kasih di harian yang sama pada 3 Maret 1916. Marco menulis kesan dua tokoh pergerakan lain yakni  Dewes Deker Dan Snevliet, di Sinar Djawa pada  8 April 1918 yang memberikan penjelasan tidak semua orang kulit putih itu seorang tiran yang yang pro kolonialis.

Tulisan itu juga menjelaskan “Snevliet diboeang” di harian  Sinar Hindia 10 Desember 1918. Yang berisi tentang nasehat, sebagai bentuk agitasi tertulis Marco untuk membangun kesadaran masyarakat Hindia yang tertindas. Dalam tulisan itu Marco menulis tetang semboyan “rawe-rawe rantas malang malang putung” yang kemudian dijadikan semboyan untuk perjuangan pada generasi kemudian.

Penulis: EDI FAISOL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here