BERBAGI

MEMBACA surat-surat Kartini dan kajian tentangnya ibarat menimba air di laut. Seberapa besar gayung, air itu takkan habis. Fakta-fakta tentangnya, kadang tercampur dengan fiksi.

Keberadaan nama-nama besar dalam pohon silsilah diperlukan untuk melegitimasi kebangsawanan/keningratannya. Sampai saat ini, tren itu tak lantas surut. Baru-baru ini, Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim sebagai keturunan penguasa Kerajaan Majapahit agar legitimasi politiknya menguat di tengah Tahun Politik.

Kebesaran Majapahit digunakan juga untuk melegitimasi pohon silsilah Kartini. Antara fakta dan fiksi, mana yang benar, kita hanya sebatas menerka dari pohon silsilah yang disusun Kardinah Reksonegoro, adik Kartini, pada tahun 1960-an.

Silsilah itu bisa dilihat dalam publikasi jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 122 (1966), Nomor 2, Leiden, halaman 283-289, dengan judul Kartini: De feiten. Jurnal itu kini bernaung di bawah KITLV (Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda).

Seorang teman di Facebook, Zacky Umam yang tengah studi doktoral filologi di Freie Universität’, Berlin, Jerman, mengunggah pohon silsilah itu tepat pada Hari Kartini, 21 April 2018. Apa yang ada di dalam dokumen yang berada di perpustakaan Leiden, Belanda, itu sama persis dengan materi di dalam jurnal.

Pembedanya berupa bentuknya ketikan rapi di atas kertas dan amplop cokelat tertulis nama terang Kardinah yang mengirimkannya dari kediamannya di Jalan Diponegoro Nomor 50, Salatiga ke Belanda untuk diterbitkan dalam jurnal yang beredar di kalangan akademikus itu.

Raja-Bangsawan dan Pikiran Kartini

Kardinah mengawali pohon silsilah dari Prabu Brawijaya sebagai Raja Majapahit. Mungkin yang dimaksud Brawijaya V, raja Majapahit terakhir. Sampai keturunan kedelapan dari Brawijawa, silsilah itu menyebut Pangeran Onggodjojo. Lalu menurun sampai pada lima ranting silsilah sampai ke Sosroningkrat, ayah Kardinah dan Kartini.

Dalam surat-surat Kartini versi Agnes Louise Symmers yang diterjemahkan dari bahasa Belanda ke Bahasa Inggris pada 1921 berjudul Letters Of A Javanese Princess, nama Brawijaya tak disebut secara jelas.

Dalam suratnya yang ditulis di Jepara pada 18 Agustus 1899 Estelle Zeehandelaar, Kartini menyebut, garis keturunan lewat ayahnya, Sosroningrat, sampai ke atas 25 generasi sebelumnya, diyakini seorang raja terakhir. Barangkali yang dimaksud Brawijaya seperti diungkap Kardinah. Namun, dalam silsilah Kardinah, hanya terdapat 13 generasi sejak dari Sosroningrat sampai Brawijaya.

Sumber yang tersedia atas keterkaitan Brawijaya ini minim. Kardinah di dalam jurnalnya tak mengelaborasi Brawijaya. Dia barangkali memperoleh pohon silsilah dari keluarga lain yang secara turun-temurun mencatatnya. Di sini letak fakta dan fiksi itu tercampur.

Jurnal Kardinah itu, tampaknya semula diniatkan untuk mengoreksi pohon silsilah yang dibuat Cora Vreede-De Stuers dengan judul Kartini: Feiten en ficties, dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 121 (1965), Nomor 2, Leiden, halaman 233-244.

Urutan klan Kartini tertukar antara Kardinah (anak ke-7) dengan Roekmini (anak ke-6). Di dalam jurnal De Stuers, Kardinah anak ke-6, sedang Roekmini anak ke-7. Kardinah rupanya tak hanya mengoreksi, tapi melengkapinya.

Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (2012: 47) juga membuat pohon silsilah berdasar surat Kartini. Pada puncak silsilah hanya disebut salah seorang raja Jawa tanpa menyebut nama. Lalu melalui 24 keturunan (tak jelas) sampai ke Tjondronegoro, bupati Demak.

Pram (2012:48-49) menyebut, ciri fisik Tjondronegoro berhidung mancung, tinggi dan tipis. Disertai warna kulitnya lebih terang. Ciri itu tak ada pada hidung Sosroningrat , kecuali letak mata yang agak ke depan. Kartini, kata Pram, meneruskan leluhurnya kecuali soal hidung.

Ternyata kelak, satu ciri bangsawan yang ditinggalkan, karena ada penyimpangan dari leluhurnya: pandangan dunianya telah lebih kaya dengan satu unsur demokrasi,” tulis Pram.

Kebanggaan Kartini pada leluhurnya bukan terletak pada status keningratannya. Menurut dia—masih pada surat kepada Zeehandelaar di atas—aristokrasi/keningratan itu hanya ada dua: keningratan pikiran dan keningratan budi. Menggantungkan diri pada keningratan leluhur bagi Kartini tak lebih penting daripada soal budi pekerti.

Oleh karena itu, Kartini bangga sekali kepada buyut dari jalur ayah, Pangeran Ario Tjondronegoro IV,  karena menjadi pemimpin progresif dan bupati pertama di Jawa Tengah yang membuka pintu untuk peradaban Barat.

Kebanggaan itu disampaikan kepada sahabat penanya di Belanda, Estella Zeehandelaar dalam surat yang ditulisya di Jepara pada 25 Mei 1899:

Semua anaknya (Tjondronegoro IV) mengenyam pendidikan Eropa. Dan itu dilanjutkan pada anak-anaknya. Banyak sepupu saya dan semua kakak laki-laki saya telah melalui Hoogere Burger School (HBS)-lembaga pembelajaran tertinggi yang kami miliki di Hindia Belanda. Dan bungsu dari tiga kakak laki-lakiku telah belajar selama tiga tahun di Belanda,” tulis Kartini.

Pedagang Kopra yang Haji

Fakta lain yang terungkap dalam jurnal yang ditulis Kardinah itu, adalah sosok kakek Kartini dari ibu kandung, Ngasirah. Kakeknya dikenal seorang haji dengan nama dan gelar agama Modirono dan neneknya Nyai Haji Siti Aminah berasal dari Telukawur—sekarang ikut Kecamatan Tahunan, Jepara. Sampai 1980, Tahunan belum jadi kecamatan.

Ngasirah, menurut Kardiah, dididik orang tuanya itu dengan agama. Modirono seorang kiai kampung dan pedagang kopra di salah satu pulau-pulai kecil di teluk Jepara. Pram (2012: 44) menyebut Modirono juga bekerja sebagai di pabrik gula Mayong (mungkin yang dimaksud Pabrik Gula Pecangaan). Mula-mula sebagai buruh lalu menjadi mandor.

Latar belakang yang biasa-biasa saja itu berbalik pada ibu tirinya (garwo padmi), Moerjam. Ia anak Tjitrowikromo, bupati Jepara periode sebelum Sosroningrat, ayah Kartini. Kartini tahu, garis keturunan ibu tirinya sampai pada pangeran di Madura. Tapi, ia, seperti dalam penjelasan Kardinah, mengaku tak  malu lahir dari garwo ampil—istri pertama tapi tak utama—karena dinikahi secara sah.

Sosroningrat menikah dengan Ngasirah yang masih berusia 14 tahun saat menjabat sebagai asisten wedana di distrik Mayong. Pernikahan konon digelar sederhana.

Produksi kopra—berbahan dasar kelapa—di Jepara itu masih terekam sampai paruh akhir abad ke-20. Menurut data statistik pada tahun 1978 produksi kelapa sebanyak 26.143.000 ton. Meningkat pada 1980 menjadi 45.075.190 ton. Produksi kopra pada 1975, 354.710 kilogram. Turun menjadi 32.935 kilogram pada 1977. Lalu naik lagi menjadi 130.710 kilogram pada 1978.

Pada awal abad ke-19, di teluk Jepara terdapat beberapa pulau kecil seperti Pulau Panjang, Pulau Kelor dan Pulau Bokor. Jarak pesisir dengan Pulau Kelor 2,5 kilometer sampai 3 kilometer. Pada 1940-an, laut yang memisahkan Jepara dengan Pulau Kelor jadi rawa, karena penuh dengan endapan lumpur dari sungai-sungai. Pulau Kelor sekarang jadi Pantai Kartini da daerah endapan itu jadi jadi pemukiman dengan nama Desa Ujungbatu, Jobokuto dan Bulu (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 15).

Persilangan silsilah Kartini dengan demikian merupakan campuran dari rakyat biasa dan bangsawan. Antara pedagang kopra, bangsawan dan raja Majapahit. Pada akhirnya, semua silsilah yang berada di antara fakta dan fiksi itu telah membentuk pikiran da jiwa Kartini: bebas. Ia membebaskan diri dari keningratan leluhur dan merengkuh keningratan budi pekerti. Suatu nilai yang membuatnya menjadi Pahlawan Emansipasi sampai kini dan mendatang.***

Penulis: ZAKKI AMALI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here