BERBAGI

Ilustrasi hujan. (shutterstock.com)serat.id- Kejadian cuaca ekstrem di beberapa daerah seperti hujan disertai puting beliung di Yogjakarta dan Minahasa, banjir di Cilegon dan Bumiayu pada saat musim peralihan dari penghujan menuju kemarau menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat, berikut penjelasan Herizal, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Pusat.

Pertama, berkembangnya aktifitas cuaca signifikan beberapa hari ini di sejumlah wilayah, selain pengaruh dinamika cuaca lokal, giatnya aktivitas cuaca juga didukung oleh aktifnya aliran massa udara basah yang lebih dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO) atau fenomena gelombang atmosfer tropis yang merambat ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. MJO memiliki siklus perambatan 30-90 hari dan dapat bertahan pada suatu fase (lokasi perambatan yang digambarkan dalam kuadran) sekitar 3-10 hari.

Saat ini fase basah (konvektif) MJO terpantau sudah berada di kuadran 4, di wilayah Benua Maritim Indonesia. MJO fase ini memberikan pengaruh dalam meningkatkan suplai uap air yang berkontribusi pada pembentukan awan
hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

MJO kali ini juga berkaitan dengan berkembangnya banyak pusaran di sekitar wilayah Indonesia yang memicu pemusatan massa udara dan jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan yang signifikan.

Kedua,sisi iklim, kehadiran MJO ini dapat meredam suhu panas dan hari-hari kering di beberapa daerah yang sudah memasuki musim kemarau.Tetapi hal itu tidak berarti musim kemarau menjadi gagal atau tertunda.

“MJO diperkirakan aktif hingga awal Mei nanti. Setelah itu kondisi atmosfer akan kembali cenderung kering, musim kemarau diperkirakan dominan di semua tempat di Pulau Jawa,” kata Herizal, Kamis (26/4/2018). (ALI)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here