BERBAGI

serat.id- Memori personal atas ketionghoaan dari 73 orang dibekukan dalam manuskrip berjudul Kumpulan Narasi Memori: Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia (2018).

Buku itu lahir dari kegelisahan atas sejarah kelam tionghoa di Indonesia. Penggagasnya, Aan Anshori, seorang aktivis Gusdurian Jombang dan pendiri Jaringan Islam Anti Diskriminasi.

Ia merasa terganggu oleh meningkatnya sentimen antitionghoa terkait kasus Ahok khususnya dari kelompok dia yang berlatar Jawa-Islam. Ia penasaran dan melakukan riset literatur tentang riwayat orang Cina di Indonesia dan dikejutkan sejarah kelam nasib orang tionghoa. Ia merasa tak akan kuat pada posisi itu.

Aan lalu mengumpulkan pengalaman orang-orang yang bersinggungan dengan ketionghoaan. Terkumpul sebanyak 73 tulisan dari 73 orang dengan latar belakang yang beragam agama, etnis, profesi, orientasi seksual.

Semua menulis secara sukarela. Buku bisa diterbitkan berkat donasi dari berbagai pihak. Tulisan di dalam buku itu berisi cerita personal dan intim dari sudut pandang sumber primer atau orang pertama.

Buku itu dikupas tuntas di aula Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Pleburan, Kota Semarang, Kamis (3/5/2018) dengan penyelenggara Forum Diskusi Budaya Tionghoa Indonesia (FDBTI).

Tiga pembicara memaparkan hasil bacaannya terkait buku tersebut. Peneliti stereotip Cia, Widjajanti Dharmowijono memaparkan tentang bagaimana stereotip terjadi beserta contoh-contohnya, baik dari cerita dalam novel-novel zaman Belanda kolonial maupun dalam sejarah orang Cina di Nusantara.

“Dari situ terlihat bahwa prasangka dan stereotip bisa dipakai sebagai pembenaran perlakuan yang paling keji sekalipun,” kata pendiri Yayasan Budaya Widya Mitra ini.

Tubagus Svarajati, penulis buku Pecinan Semarang memiliki satu kesan kuat setelah membaca seluruh buku ini.

“Diskriminasi terhadap orang Tionghoa, yang sudah berlangsung lama, seperti untaian tali jalin-menjalin yang tak berujung pangkal. Absurd!”

Sedangkan Triyono Lukmantoro merasa senang karena ada buku testimoni bersama antara individu berlatar etnis Tionghoa dan non-Tionghoa tentang aneka pengalaman hidup konkret mereka, mulai dari pengakuan dosa sampai kisah lucu.

“Yang hendak disampaikan para penulisnya adalah ingatan yang memiliki nilai historis. Ada jejak-jejak traumatik yang tidak gampang dilupakan, bahkan tidak mungkin dilenyapkan. Mengumpulkan aneka kesaksian dari anak-anak bangsa ini penting agar kita tidak terpenjara terus dalam kategori-kategori sosial yang merendahkan martabat kemanusiaan,” kata pengajar FISIP Undip ini.

Koordinator FDBTI, Ellen Nugroho berharap kegiatan ini menjadi kesempatan belajar bagi warga Semarang untuk membongkar dikotomi mayoritas-minoritas atau pribumi-nonpribumi.

“Kita semua perlu berkolaborasi untuk membongkar stereotip dan meredam prasangka demi merekatkan Indonesia, apalagi menjelang tahun politik 2019,” kata Direktur EIN Institute ini.

Sekadar informasi, FDBTI adalah wadah interaksi antar para pemerhati dan peminat kajian tentang budaya orang Tionghoa di Indonesia, khususnya di Semarang.

Melalui diskusi soal budaya Tionghoa di Indonesia serta kegiatan intelektual-seni-budaya lainnya, Forum berharap akan terwujud kehidupan bersama yang saling menghargai sebagai sesama warga bangsa Indonesia, bebas dari stereotip negatif, prasangka, dan sentimen anti satu sama lain. (ALI).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here