BERBAGI
Peneliti CSIS, Arya Fernandes, memaparkan materi dalam dalam lokakarya media yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Hotel Santika Premiere, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Senin (7/5/2018). (Foto kontributor serat.id)

serat.id- Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, memperkirakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bakal mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya untuk memenangkan pasangan calon Ganjar Pranowo-Taj Yasin dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018.

Hal itu terkait dengan posisi Jawa Tengah sebagai basis partai tersebut. Menurut dia, kekalahan PDIP di Jateng bakal memengaruhi kondisi psikologis dalam konstelasi nasional.

“Kalau PDIP kalah di Jateng, psikologis kader di tingkat nasional akan turun. PDIP di Jakarta dan Banten sudah kalah. Saat ini di Sumatera Utara dan Jawa Timur persaingan antarpartai ketat. Jadi, Pilgub Jateng ini adalah pertaruhan besar bagi PDIP. Kalau kalah bahaya bagi PDIP. Jadi mereka berusaha keras untuk menang,” kata dia dalam lokakarya media yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Hotel Santika Premiere, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Senin (7/5/2018).

Kondisi itu, kata Arya, sudah dibaca PDIP, sehingga dalam Pilgub Jateng segala jurus bakal dikerahkan. Langkah yang diambil PDIP, kata dia, antara lain memaksimalkan kemenangan di daerah-daerah yang jadi basis mereka sebelumnya. Lalu, kepala daerah PDIP juga bakal dituntut untuk kerja keras agar perolehan suara di atas 50%.

“Saya lihat petahana punya peluang besar untuk menang. Mesin partai dikerahkan, semua sumber digunakan, kepala daerah juga diminta kerja keras. Basis PDIP ini sebetulnya sudah dibina sejak Pemilu tahun 1955. Jadi Jateng punya sejarah panjang sebagai basis merah. Ini berusaha dipertahankan mati-matian di Pilgub ini,” ujar dia.

Di sisi lain, dia melihat pasangan calon Sudirman Said-Ida Fauziyah sebagai penantang petahana, memiliki peluang kecil untuk menang. Dua bulan menjelang hari pencoblosan ini, Arya memperkirakan peluang itu akan bertahan bila tidak ada upaya keras. Selain itu, kondisi politik yang stabil dan tidak ada isu besar dalam politik membuat penantang akan semakin sulit menang.

“Penantang ini juga belum punya pengalaman sebagai kepala daerah. Ini jadi catatan juga sulitnya menantang petahana. Jadi harus kerja sangat keras sekali. Faktor Jateng sebagai basis PDIP juga menentukan keseriusan memenangkan kontestasi ini.”

Politik Uang Tak Membantu

Dalam upaya menumbangkan petahana, Arya melihat cara-cara curang seperti kampanye hitam dan politik uang tidak dapat membantu. Cara itu dimungkinkan tetap ada, karena geografi Jawa Tengah yang didominasi perdesaan.

Menurut survei CSIS pada 2016 yang melibatkan 3.900 responden, masih tinggiya toleransi dalam menerima uang dan barang untuk menentukan pilihan pasangan calon. Responden di perdesaan sebesar 65% menoleransi praktik itu dan sebesar 29,1 % responden di desa menganggapnya wajar.

“Saya lihat kedua pasangan calon punya komitmen untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Tidak mungkin menggunakan cara-cara kotor. Kalaupun ada, kemungkinannya kecil sekali. Penantang saya lihat juga punya komitmen kuat untuk tata pemerintahan yang baik.” (ALI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here