BERBAGI
Ilustrasi memancing di sungai. (Foto Pixabay.com)

serat.id- Wajah Edi Sudrajat dan Joko terlihat sumringah saat duduk di pinggir Sungai Gondorio, Kelurahan Gondoria Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, pekan lalu. Bermodalkan kail munggil dan umpan rayap mereka berdua bersendau sesekali  menarik seekor ikan seukuran jari berwarna perak yang dikumpulkan dalam wadah.

Mereka seakan lupa dengan dunia masing-masing, Edy Sudrajat sendiri seorang karyawan salah satu perusahaan plastik di Kawasan Industri Candi Semarang. Sedangkan Joko seorang PNS di kantor Kementerian Hukum dan HAM Jateng.

“Ini kegiatan rutin kami saat hari Minggu, saat liburan bersama juga hampir tak pernah absen menjadi pemburu,” kata Edy Sudrajat saat ditemui mancing di Sungai Gondorio.

Kebiasaan lelaki yang telah berkeluarga di pinggiran Kota Semarang mulai marak sejak beberapa tahun ini. Tak hanya Edy dan Joko, tercatat mereka berdua juga mancing bareng tetangga lain satu RT

“Kadang kami kompak berangkat berlima, hanya untuk mancing Ikan Wader seperti ini,” kata Joko yang sempat menjabat ketua RT di perumahan Koveri Mega Permai Ngalian Kota Semarang itu.

Ihwal mancing Ikan Wader mulai marak dilakukan masyarakat urban sekitar pinggiran Kota Semarang sejak tiga tahunan terakhir. Lokasi yang masih alam pedesan sungai dikelilingi hutan jati menjadikan aliran sejumlah sungai yang ada di kawasan Kecamatan Ngaliyan tempat wisata alam yang murah meriah.

Tak hanya wader, ekosistem Sungai Gondorio masih menyisakan  udang, Ikan Gabus dan Lele yang sering didapat pemancing.

Sebenarnya tak hanya sungai Gondorio yang menawarkan sensasi memancing ikan kecil bernama latin Barbodes Binotatus, tercatat di kawasan itu ada Sungai Beringin di kelurahan Reringin, Sungai Wates dan Sungai Palir. Namun mereka sering ke Sungai Gondorio karena terkenal wadernya yang hampir tak pernah habis setiap musim.

Selain Sungai Godorio, sejumlah sungai itu menjadi jujukan para lelaki urban yang kini tinggal di sejumlah perumahan di Ngaliyan. Mereka justru saling kenal saat bertemu di sungai ketika memburu Wader.

Tak jarang mereka mengajak keluarga  menikmati  senja atau akhir pekan saat libur. “Banyak yang datang ke sini tak hanya dari perumahan Koveri, kami saling kenal dari lintas perumahan lain ternyata sesama perantau yang menetap di Semarang,” kata Edi Sudrajat pria asli Gunung Kidul, DIY, itu.

Bagi mereka mancing Wader sensasi tersendiri, ikanya yang kecil bukan masalah, namun kemudahan mendapatkan dengan sambaran ikan saat memangsa umpan memberi sensasi tersendiri bagi mereka.

Yang didapat pun cenderung mudah, di sungai itu pemancing Wader  mendapatkan hasil dengan hitungan menit bahkan detik. Beda saat mancing ikan besar yang memerlukan proses pemangsaan yang lama.

Selain itu, kegiatan yang dilakukan itu juga mengenang masa kanak-kanak di kampung yang ternyata hampir sama dialami para lelaki urban yang kini tinggal di perumahan kawasan Kota Semarang. (EDI FAISOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here