BERBAGI
SUASANA tenang dan asri perkampungan di Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, awal Juni 2018 (Widia Primastika/serat.id)

Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, bukan hal baru bagi pendaki Gunung Merbabu. Sebab, dusun ini merupakan jalur pendakian tertua Gunung Merbabu. Meski letaknya di Kabupaten semarang, dusun di lereng Gunung Merbabu yang dapat dijangkau 30 menit dari Kota Salatiga lewat Jalan Lingkar Salatiga. Cukup banyak penunjuk jalan yang membantu menemukan dusun tua ini.

Dusun yang terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, tak hanya menyuguhkan panorama alam yang memberikan ketenangan jiwa, namun juga banyak nilai hidup yang dapat dipelajari dari masyarakat Dusun Thekelan. Misalnya dari cerita Citro Sukarmin. Meski warga di dusun ini menganut agama Buddha, Islam, Kristen, dan Katolik, namun hampir tak pernah ada konflik agama di sini. Bahkan di Dusun Thekelan, letak vihara, masjid dan gereja jaraknya berdekatan.

Citro yang juga merupakan Ketua Vihara Buddha Bhumika (nama vihara di Dusun Thekelan) menyampaikan, sejak zaman sesepuh mereka, kerukunan beragama sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Thekelan. Nilai toleransi merupakan ajaran wajib yang diturunkan hingga ke anak cucu.

“Kita nggak mau tau perpecahan agama yang terjadi di luar, yang penting kita dalam ruang satu dusun rukun. Memang dari sesepuh, dari mbah-mbah itu sudah mengajarkan seperti itu,” ungkap Citro, awal Juni ini.

Kerukunan bergama terlihat jelas saat hari besar tiba, tradisi saling berucap salam tak pernah menjadi perdebatan di dusun ini. Mereka pun juga saling mengucap salam dengan spanduk. Spanduk ucapan selamat Waisak dari umat Islam dan Nasrani di dusun ini adalah hal yang biasa. Bagi warga, itu merupakan kebaikan yang harus dijaga.

“Seperti kemarin saat Waisak, warga non Buddha sudah menunggu di depan vihara usai kami beribadah. Mereka mengucapkan salam kepada kita. Begitu juga jika Natal dan Lebaran tiba, warga dusun yang tidak merayakan ya sudah berkumpul di depan masjid atau gereja untuk memberikan salam,” kata Citro.

Tak hanya saling mengucap salam, setiap perayaan keagamaan, mereka selalu mengadakan acara yang dihadiri seluruh warga desa. Seperti cerita Kepala Dusun Thekelan, Supriyo, perayaan Waisak yang bersamaan dengan Bulan Ramadhan kemarin, tak menjadi persoalan bagi warga untuk berkumpul.

“Kalau biasanya perayaan Waisak itu kan siang, kemarin umat Buddha mengundang kami saat malam hari, karena menghormati kita yang sedang berpuasa. Mereka mengadakan acara jam 8 malam, setelah kami selesai sholat tarawih,” ujar Supriyo.

Di Dusun Thekelan ini pun, warga juga tak segan bergotong royong membangun rumah ibadah. Kisah unik pun diungkapkan Supriyo saat membangun gereja di dusun itu.

“Pengalaman kemarin mbak, gereja itu umat Nasrani mau bikin gereja, kebetulan untuk halamannya itu kan harus meratakan, sempat waktu itu umat Kristen mau nyewa beghoe, tapi kami nggak teghel (tega), akhirnya saya kepyakan (kumpulkan) semua warga kerja bakti meratakan. Kalau pakai beghoe 1 hari, itu pakai manual gak sampai 1 hari. Itu semua bapak ibu bawa alat untuk meratakan,” ungkap Supriyo.

Menjaga Keharmonisan

Warga Thekelan berprinsip, keharmonisan merupakan pendukung utama kebahagiaan, sebab dengan keharmonisan, maka persatuan dan ketentraman akan tercapai. Setiap warga Thekelan menyadari, masalah agama adalah masalah sensitif, sehingga jika saling menyinggung agama lain, urusan akan panjang.

“Untuk dalam satu rumah tangga lebih dari satu agama sudah biasa bagi kami. Seperti di sini, kami beserta ibu berbeda agama itu sudah biasa, seperti di keluarga saya, ibu saya itu Buddha, saya muslim, dan keluarga besar mertua saya kristen. Jadi ya itulah,” ungkap Supriyo.

Kepala Dusun Thekelan, Dimas Jumali (Widia Primastika/serat.id)

Salah seorang remaja Dusun Thekelan, Dimas Jumali pun mengatakan hal yang sama. Sejak kecil, orangtuanya sudah menanamkan toleransi di kehidupannya.

“Kata orangtua, sebelum menyatukan Indonesia, kita harus jaga persatuan di dalam kampung kita sendiri. Dusun ini beda dari dusun lainnya, karena kita saling menjaga toleransi,” Kata Dimas.

Meski begitu, perbedaan pandangan soal agama di Dusun Thekelan juga pernah terjadi, namun kata Citro, biasanya orang yang tak toleran tidak akan betah di Thekelan, mereka pun akan keluar sendirinya dari dusun ini.

“Pasti biasanya mereka merantau. Siapa saja seperti itu, nggak betah. Jadi kalau ada yang nggak sependapat mereka tetap ikut. Tapi kalau ada aturan dusun mereka nggak mau ikut, mereka tidak akan betah, mereka tak direstui sama yang mbahurekso, sama yang jaga dusun,” ungkap Citro.

Meski dusun ini banyak pengunjung, baik pendaki, atau mereka yang berkemah, maupun yang melakukan pengabdian masyarakat, namun ajaran leluhur tetap dijaga oleh masyarakat Thekelan. Meski terbuka, masyarakat tak tepengaruh begitu saja dengan budaya luar yang masuk. Bahkan selain menempatkan toleransi diatas segalanya, masyarakat di Dusun Thekelan juga menjunjung tinggi nilai kejujuran.

“Budaya nggak bener itu tak masuk disini, miras gitu nggak ada disini. Jadi orang-orangnya jaga banget. Bahkan menemukan dompet di jalan, itu bakalan dibawa ke rumah Pak Kadus (kepala dusun) untuk diumumkan melalui pengeras suara, siapa yang dompetnya hilang,” kata Citro.

Tak hanya itu saja, masyarakat Dusun Thekelan pun juga dikenal tak memiliki ambisi untuk menjadi pemimpin, sebab bagi mereka, pemimpin adalah mandat. Saat pemilihan kepala dusun misalnya, jika di dusun lain warga berlomba-lomba mencalonkan diri hingga menghabiskan dana kampanye yang besar, di dusun ini tak pernah ada warga yang mau mencalonkan diri menjadi kepala dusun.

“Jadi kepala dusun di Thekelan itu nggak akan ada seperti di tempat lain, yang kalau ada pendaftaran kepala dusun, di sini sampai sewindu pun kalau yang namanya pendaftaran mbak, nggak bakal ada yang daftar,” ujar Citro.

Kekompakan Warga

Tradisi itu mendapat resistensi justru dari pemerintahan desa sendiri. Kepala Dusun Thekelan, Supriyo menceritakan, saat warga menunjuk dirinya menjadi kepala dusun, kepala desa tak mau memberikan surat keputusan (SK) untuk mengangkat Supriyo.

“Sampai sekarang saya nggak tau kenapa Pak Kades nggak mau memberikan SK, tapi kalau saya dengar, alasannya karena prosedur pemilihan kepala dusun di Thekelan tidak sesuai aturan,” ungkap Supriyo.

Panorama Gunung Merbabu dilihat dari Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Widia Primastika/serat.id)

Supriyo pun mengungkapkan, saat kepala desa tak mau mengeluarkan SK, baginya bukan suatu masalah jika ia tak menjadi kepala dusun. Namun saat ia merelakan jabatan itu, warga Dusun Thekelan justru berunjuk rasa di Kantor Kepala Desa Batur. Mereka meminta kepala desa untuk mengangkat Supriyo menjadi pemimpin mereka.

“Bahkan saya pun tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk proses menjadi kepala dusun. Semua hasil patungan warga. Mereka juga yang membantu pengurusan administrasi,” kata Supriyo.

Meski begitu, Supriyo pun tak khawatir akan tugasnya menjadi Kepala Dusun Thekelan, baginya itu adalah mandat dari warga yang dipercayakan kepadanya. Dalam menjalankan tugas, Supriyo percaya warga akan bersama dengannya membangun desa.

Meski Dusun Thekelan terkenal karena masih menjaga ajaran leluhur mereka, namun masyarakat malu jika hal itu lantas menjadi terkenal di luar. Sebab bagi mereka, ajaran leluhur itu adalah nilai kehidupan yang sudah seharusnya diterapkan oleh setiap manusia. Warga berharap, nilai kehidupan yang diterapkan oleh mereka tak hanya menjadi pembicaraan hangat di luar dusun, tapi bisa ditanamkan dalam kehidupan masing-masing. (Widia Primastika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here