BERBAGI
Dugaan Plagiat Rektor Unnes
Ilustrasi Dugaan Plagiat Rektor Unnes

serat.id- Anif Rida, kini pengajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri  6 Salatiga merupakan pemilik naskah  “Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang terbit dalam prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) 1 Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003. Naskah itu sama persis dengan makalah “Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” karya Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman yang terbit di jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya (Litera) Universitas Negeri Yogyakarta Volume 3, Nomor 1, Tahun 2004.

Saat ditemui Serat ia tak mengakui jika pernah mengirimkan makalah ke panitia Kolita 1. Anif Rida yang mengaku masih keluarga dengan CV Fhaziami, perusahaan menggarap tender jaket  almamater Unnes itu mengakui dosen pembimbing Prof Fathur Rokhman yang kini menjadi rektor.

Baca Juga: Mencuat di Majelis Profesor

Menurut dia, saat itu lazim seorang dosen membantu mahasiswa dalam membuatkan dan mengirimkan makalah kepada panitia sebuah konferensi. “Itu bukan karya saya. Saya tidak tahu-menahu dan tidak merasa membuat. Saya juga tidak tahu ada naskah itu,” ujar Anif Rida.

Pada saat Kolita 1, Rida masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Unnes.

Rida sempat menyatakan mencabut pernyataan plagiat yang pernah ditandatangani, dengan alasan tidak pernah mengirim makalahnya di acara Kolita 1.

Zakki Amali dan A. Arif dari Serat mengkonfirmasi Anif Rida seputar dugaan plagiat dan hubungannya dengan Fathur, di ruang tunggu guru SMP 6 Salatiga, pada Sabtu, 9 Juni 2018.

Ibu habis dari Unnes?

Iya, tapi masalah jaket. Kita silaturrahim. Sama-sama lama gak ketemu. Saya hanya masih keluarga dengan CV Fhaziami. Rekanan Unnes soal pengadaan. Ada tender jaket. Sudah itu saja.

Ibu tahu karyanya diplagiat?

Saya tidak tahu dan tidak merasa memiliki karya itu. Saya malah gak tahu dan gak punya. Saya malah tahunya dari jenengan. Skripsi saya memang tentang kode bahasa, tetapi (objek penelitian) di Kudus.

Di Kolita 1 Unika Atma Jaya ada makalah ibu?

Anda bisa cek saya gak pernah hadir di situ. Mungkin konfirmas ke Pak Fathur saja. Saya gak terlalu tahu, nanti salah omong malah salah-salah. Ini urusannya sama Unnes.

Lalu itu karya siapa?

Itu karya Pak Fathur Rokhman. Jadi (karya) itu dipakai, maksud Prof Fathur (mungkin) hanya membimbing mahasiswanya untuk latihan presentasi di sini (Kolita 1 Unika Atma Jaya). Tapi saya gak hadir juga gak presentasi. Anda bisa cek ke mahasiswa bimbingannya. Dulu kan (skripsi) saya dibimbing yang kode bahasa. Justru kami yang belajar dari beliau.

Jadi siapa yang mengirim?

Mungkin Prof Fathur untuk latihan saya presentasi. Tapi saya gak hadir.

Pakai nama ibu?      

Mungkin. Dia kan banyak mahasiswanya. Halah wong dosen saja. Misal, kamu yang penelitian, namanya pakai saya, karena saya (dosen) itu biasa.

Ibu hadir di Kolita 1 Unika Atma Jaya?

Ya gaklah mas. Saya gak hadir. Saya gak presentasi. Kan bukan saya yang mengirim. Misalnya saya punya makalah tak tulis nama Anda, lalu tak kirimkan, lalu Anda tiba-tiba diwawancara gimana.

Apakah ada pembicaraan dengan Fathur soal surat pernyataan plagiat dari Ibu?

Haduh saya tidak tahu. Hukumnya plagiat juga tidak tahu. Saya juga jarang nulis.

Ibu ke Unnes dalam rangka mencabut surat pernyataan plagiat?

Iya, karena saya memang tidak pernah kirim ini (makalah). Saya cabut pernyataan itu. Saya tidak merasa menulis ini. Tidak merasa mengirim.

Lalu ini diakui atau tidak sebagai karya ibu?

Tidak. Saya tidak pernah menulis.

Tidak berusaha mengonfirmasi ke Unika Atma Jaya kalau itu bukan karya ibu?

Dibiarkan saja. Urusan tidak penting.

Beberapa paragraf di skripsi ibu ada kesamaan di jurnal Pak Fathur?

Saya tidak tahu itu. Yang membuat skripsi kode bahasa kan banyak. Tidak hanya saya. Skripsi sudah diterima Unnes sudah selesai. Intinya gini. Sebenarnya ini masalah Pak Rektor. Bukan masalah saya. Saya gak ikut campur. (*)

Reporter: Zakki Amali dan A. Arif

Penulis: Zakki Amali dan A. Arif

Editor: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here