BERBAGI

Artikel yang ditulis Prof Fathur Rokhman yang pernah dimuat di jurnal Litera 14 tahun silam itu diduga hasil plagiat. Pengelola jurnal Litera, Universitas Negeri Yogyakarta , segera berembug dengan pengelola jurnal untuk menentukan sikap.

serat.id- Profesor  Burhan Nurgiyantoro muram usai memeriksa dua naskah artikel di kantor Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Jumat, 8 Juni 2018. Editor in Chief jurnal Litera itu kaget dua artikel itu memiliki kesamaan di beberapa bagian. Bahkan, data yang dikemas dalam tabel di dua artikel itu sama persis.

Ia baru sadar artikel Prof Fathur Rokhman berjudul “Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang telah dimuat di jurnal Litera pada Volume 3, Nomor 1, Tahun 2004 sama persis dengan artikel ilmiah milik Anif Rida berjudul “Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang dimuat dalam prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) 1 Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003.

Baca Juga: Mencuat di Majelis Profesor

Burhan membenarkan artikel yang ditulis Fathur itu pernah dimuat di jurnal Litera 14 tahun silam. Ia menyesalkan karya yang diterbitkan lembaganya diduga plagiat dan segera berembug dengan pengelola jurnal untuk menentukan sikap.

“Yang jelas plagiat pelanggaran kode etik yang berat. Kita blacklist aja. Sebetulnya dia tidak kirim artikel lagi ke kami. Tapi setelah ini, kami tidak akan menerima artikel dari dia,” tegas Burhan.

Menurut dia, awalnya tidak tahu jika naskah itu plagiat, karena mendeteksi naskah pada tahun itu tidaklah mudah. Meski demikian, sudah ada kesepakatan dengan penulis bahwa naskah yang akan dipublikasikan bukan hasil plagiat.

“Andai saya atau kami tahu, pasti tidak kami muat. Saat itu kami berdasar kepercayaan saja. Tidak diperiksa. Tidak tahu juga saat itu ada artikel yang terbit lebih dahulu,” kata Burhan.

Baca Juga: Tim EKA Mengantongi Bukti Artikel Plagiat Fathur

Kepada Serat, Burhan menyatakan saat itu jurnal Litera yang ia kelola memang masih kembang kempis dan belum terakreditasi. Sedangkan pengelola harus berjuang keras mencari artikel agar bisa terbit rutin, termasuk meminta Profesor  Fathur menulis di jurnal yang dikelola.

Burhan mengenal Fathur, karena pada saat mengerjakan disertasi untuk studi S3 di Universitas Gajah Mada dibimbing oleh dosen yang sama. Munculnya artikel Fathur Rokhman yang ia terbitkan itu karena prinsip kepercayaan terhadap dosen yang mengerti kode etik penulisan dan sudah dikenalnya. “Kalau ada begini (plagiat), ini mencederai kepercayaan kami. Terutama saya,” kata Burhan.

Tidak Kenal Kedaluarsa

Plagiarisme di dunia kampus menurut dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, St Sunardi, akibat dari kultur akademik yang tidak sehat. Ia menilai pendidikan dari S1, S2 hingga S3 tidak disiapkan agar mampu menulis atau meneliti ilmiah. Di sisi lain kampus dituntut memenuhi standardisasi akreditasi. “Akhirnya memaksakan diri menulis. Peta besarnya seperti itu,” kata Sunardi.

Menurut Sunardi, plagiat yang dilakukan dosen susah diterima karena menghancurkan profesi dan anak didiknya.  Menurut Sunardi, sanksi bagi plagiator tergantung setiap masing-masing perguruan tinggi yang diberlakukan oleh dewan etik sebagai eksekutor yang memutuskan berdasarkan aturan yang ada. Namun, Sunardi menegaskan seorang akademisi pelaku plagiat dipandang rendah.

Baca Juga: Anif Rida : “Mungkin Prof Fathur yang Menulis Makalah Itu”

“Orang bisa tidak bisa naik pangkat. Tidak boleh ngajar ini-itu. Kalau S2 tidak boleh kuliah lagi. Kalau itu diumumkan itu sudah parah akibatnya untuk orang yang melakukan plagiat,” katanya.

Kasus plagiat yang dilakukan Fathur Rokhman yang kini menjadi Rektor Unnes, menurut Sunardi sangat parah. Terlebih pelakunya adalah pemimpin kampus. Menurut dia, plagarisme bukan hanya soal hak cipta yang diplagiat. Namun lebih serius, yaitu merusak pendidikan karena jelas plagiat menghancurkan sistem komunikasi pembelajaran.

“Plagiat itu bisa membuat kita tidak mengenali kemampuan kita yang sebenarnya. Ini momen baik memperbaiki perguruan tinggi plus jurnal-jurnal itu,” katanya.

Menurut dia, plagiat tidak mengenal kedaluarsa, sehingga dalih artikel itu telah berumur 14 tahun tidak menggugurkan sidang etik terkait dugaan plagiat yang menimpa Fathur. (*)

Reporter: Zakki Amali dan A. Arif

Penulis: Zakki Amali dan A. Arif

Editor: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here