BERBAGI

Sanksi itu layak dikenakan kepada pelaku plagiat, karena statusnya sebagai pimpinan tertinggi universitas dan sebagai guru besar.

Dugaan Plagiat Rektor Unnes
Ilustrasi Dugaan Plagiat Rektor Unnes

serat.id- Anggota Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof Engkus Kuswarno, mengaku sudah mengantongi bukti autentik dua artikel milik Anif Rida dan Prof Fathur Rokhman  yang diduga terindikasi plagiat. Tim EKA saat ini sedang menunggu instruksi dari Dirjen atau Menteristek Dikti untuk memverifikasi adanya dugaan plagiat.

“Ada yang mengadukan atau tidak, bila sudah ditemukan hukumnya wajib untuk menelusuri. Kami juga akan memberi ruang klarifikasi kepada terduga plagiat. Kalau tidak bisa membuktikan pembelaan, maka dieksekusi dengan sanksi dari Menteri,”  ujar Engkus, kepada Serat, Kamis, 28 Juni 2018.

Baca Juga: Mencuat di Majelis Profesor

Ia menilai plagiat adalah persoalan pengutipan yang tidak memenuhi kaidah ilmiah.

“Mau satu katadua kata, satu paragraf atau satu makalah plagiat tetap plagiat. Definisinya sudah jelas,” ujar Engkus menambahkan.

Menurut Engkus, pelaku plagiat terancam sanksi berat, mulai dari penurunan pangkat dan jabatan sampai pemberhentian sebagai dosen sesuai Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Sanksi itu layak dikenakan kepada pelaku plagiat, karena statusnya sebagai pimpinan tertinggi universitas dan sebagai guru besar. Ia khawatir ini akan berpengaruh terhadap mahasiswanya, jika pengajar tak mampu memberi contoh perilaku yang baik.

Baca Juga: Kecewa Setelah Belasan Tahun Terbit

“Sanksi berat itu setimpal seperti hakim yang tahu hukum tapi melanggar itu hukumannya lebih berat dari maling biasa. Ini sudah menyangkut marwah dan moral akademik,” ujar Engkus.

Kepala Humas Unnes, Hendi Pratama mengatakan sampai saat dihubungi Serat pada Senin, 25 Juni 2018, tidak ada informasi terkait dugaan plagiat oleh profesor manapun di kampus yang terletak di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah ini.

Baca Juga: Anif Rida : “Mungkin Prof Fathur yang Menulis Makalah Itu”

“Dari Humas biasanya (tahu informasi) ada plagiat yang dilakukan dosen atau profesor dari sidang etik atau senat. Kalau dosen biasanya dapat dari Baperjakat. Ini malah saya belum tahu,” kilah dia.

Hendi beralasan, tak ada informasi dugaan plagiat itu, karena aduan terkait dugaan plagiat dari masyarakat sebagai syarat untuk menyidangkan Prof Fathur belum ada baik melalui email maupun aplikasi pelaporan. (*)

Reporter: Zakki Amali dan A. Arif

Penulis: Zakki Amali dan A. Arif

Editor: Edi Faisol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here