BERBAGI
Salah satu adegan dalam video klip lagu terbaru Tanpanada ‘Bertapa’. (serat.id/Dokumentasi Tanpanada)

Serat.id- Di kecepatan denyut 166 beats per minute dan titian waktu 4 menit 38 detik, karya berjudul “Bertapa” meramu irama dengan musik dan lantunan. Grup musik dari Semarang, Tanpanada, bersama aliran yang tak tentu, melahirkan satu lagu.

Karya ini hadir sendiri, di luar album musik yang diluncurkan secara daring pada 10 Desember 2017 lalu bertajuk Diorama Kakofoni oleh label Sejahtera Idea Production.

“Bagi kami, nada merupakan aliran, yang muncul dari setiap kata dengan bentuk suaranya. Kuncup tersebut kemudian merekah dan kami tangkap sebagai irama. Muncul kolaborasi dari kata, bunyi, hingga olah digital,” kata salah satu anggota Tanpanada, Aristya melalui rilis, Minggu, 1 Juli 2018, kepada Serat.

Grup musik asal Kota Lunpia ini terdiri atas Erick (vokal), Fajar ‘Cepot’ Leksono (vokal), Aristyakuver (etnik), Lutfi Firmansyah (Gitar/Vokal), Adi ‘Kempul’ Prasetyo (gitar), Samid (bass) dan Lazuardy ‘Ambon’ Inu (drum).

Hasil olahan itu dirangkai di Studio Musik 4WD, Jalan Sukarno-Hatta, Pedurungan, Semarang yang dimiliki Hamzah Kusbiyanto.

Menurut Aristya, musik berkonsep akustik dipilih untuk mengawali alunan di awal lagu. Dia menilai, akustik merupakan kejernihan. Alat tiup dari Jepang, Shakuhachi melengkapinya. Seruling itu, dalam konsepnya, mempunyai lantunan yang bersinergi dengan air. Aliran yang jernih.

Di menit 2.05, alat musik tradisional bernama Karinding di Jawa Barat dan Genggong di Bali menjadi latar deklamasi puisi. Alat musik yang dekat dengan tradisi persawahan ini membentuk ruang kontemplasi.

Lagu “Bertapa”, mewakili proses kontemplasi dalam kejernihan diri. Ia adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Mulai lahir, tua, dan mati.

Lagu ini dilengkapi dengan video klip yang digarap Tri Setio Anggoro (@anggagemb) dan Panji Rochmat Aprizal (@julpanji).

Lagu “Bertapa” mendapatkan cerita yang berbeda. Disandingkan dengan Kidung Paramadita dan Aristya Kusuma Verdana sebagai aktor, serta latar tempat di Hutan Tinjomoyo, Kota Lama, dan Taman Budaya Raden Saleh, aktivitas visual terjadi.

Konsep yang dipilih adalah warna hitam dan putih. Kontemplasi kembali bertunas. Di satu warna, gradasi memunculkan detail peristiwa. Gerak tubuh berselaras dengan alunan alam. Manusia, hidup di realitas dalam dirinya dan di luar dirinya. Alam, sosial, serta budaya. Kesadaran untuk hidup, lebih hidup. (ALI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here