BERBAGI

Ilustrasi ayam. (Pixabay.com)

Serat.id- Kementerian Pertanian (Kementan) dan FAO ECTAD Indonesia mengingatkan para peternak akan ancaman pandemik di sektor perunggasan nasional.

Salah satunya yaitu temuan jenis virus flu burung baru di Indonesia, H9N2 yang bersifat low pathogenic avian influenza (LPAI) atau penyakit flu burung yang tidak membahayakan manusia, sejak awal tahun 2017 lalu. Virus ini dapat menurunkan produksi, terutama pada peternak ayam petelur hingga 70%.

Untuk itu Kementerian Pertanian bersama dengan FAO ECTAD Indonesia dan sejumlah lembaga lainnya telah mengambil sejumlah langkah aktif dalam mengendalikan flu burung termasuk aktivitas lain untuk mendorong para peternak menghasilkan produk unggas yang sehat bagi masyarakat.

Salah satunya melalui keikutsertaan dalam ajang tahunan Indolivestock yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada 4-6 Juli 2018.

“Kita menghadapi tantangan penurunan produksi telur akibat H9N2. Di sisi lain, kita juga kesulitan untuk memproduksi vaksin. Dahulu untuk virus flu burung jenis H5N1 (bersifat highly pathogenic), kita lebih mudah memproduksi vaksinnya. Tapi untuk virus H9N2 ini sulit untuk ditumbuhkan dan dibuatkan vaksin, tapi sangat merugikan peternak karena menurunkan produksi telur,” ujar Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping, dalam seminar perunggasan nasional di JCC Jakarta, 5 Juli 2018, sebagaimana rilis yang diterima Serat.

Selain H9N2, Fajar menjelaskan pihaknya juga mendapat banyak laporan terkait kematian terutama pada peternakan ayam broiler. “Muncul berbagai dugaan penyabab timbulnya kasus-kasus tersebut, apakah hanya karena infeksi tunggal dari suatu jenis penyakit atau melibatkan infeksi bersama dan permasalahan lainnya seperti manajemen pakan, vaksinasi, biosekuriti dan sebagainya,” imbuhnya.

Penggunaan Antibiotik Growth Promotor

Fajar mendorong para peternak agar bisa memperbaiki pengelolaan kandang, sebagai usaha terbaik untuk mencegah infeksi virus dan kuman pada unggas. “Perhatiaan kami yang lain, yaitu terkait penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promotor/AGP) di sektor perunggasan. Ini sudah dilarang, di seluruh dunia dan kami sudah yakinkan para peternak bahwa AGP hanya memberi keuntungan jangka pendek, tapi sangat merugikan untuk jangka panjang,” jelasnya.

FAO ECTAD Indonesia Team Leader, James McGrane menegaskan, penggunaan antibiotik yang tidak sesuai, menjadi perhatian serius di seluruh dunia karena menyebabkan resistensi antimikroba. Tidak hanya pada sektor kesehatan manusia, tapi juga pada sektor pertanian di mana penggunaan antibiotik di sektor tersebut masih sulit untuk dikendalikan.

“Jika kita tidak melakukan sesuatu, diperkirakan kematian manusia akibat infeksi yang tidak bisa disembuhkan karena kuman yang resisten dapat mencapai 10 juta jiwa pada 2050,” jelasnya.

Untuk itu, tambah James, melalui program EPT2 yang didanai oleh USAID, FAO ECTAD mendorong peningkatkan kapasitas pemerintah Indonesia dalam menghadapi dan mencegah ancaman pandemik termasuk resistensi antimikroba. (ALI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here