BERBAGI
Penjual Ikan Hias Araipama
Penjual ikan hias predator jenis Araipama Gigas di Pasar Johar Lama, Kota Semarang, Jumat, 6 Juli 2018. (Kontributor serat.id)

Serat.id- Omzet pedagang ikan hias di Kota Semarang menurun hingga 60 persen pasca digencarkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 14 Tahun 2014.

Willy, pedagang ikan hias di Pasar Johar Lama mengatakan, dagangannya mulai sepi dari pembeli sejak terdengar pelarangan peredaran ikan predator sejenis Arapaima Gigas, Aligator, Sapu-sapu dan Piranha.

“Sejak seminggu lalu pembeli ikan jenis predator mulai sepi, sepertinya mereka takut untuk membeli karena dengar peraturan denda hingga hukuman penjara kalau ketahuan memiliki ikan jenis predator seperti Arapaima dan Aligator,” kata Willy, saat ditemui Serat, di Pasar Johar Lama, Kota Semarang, Jumat, 6 Juni 2018.

Willy mengaku sudah berjualan ikan hias jenis predator selama 20 tahun. Menurutnya ikan Arapaima menjadi primadona para kolektor ikan beberapa tahun terakhir.

“Saya jualan sudah 20 tahun. Baru tiga sampai empat tahun ini jual ikan Arapaima, karena banyak dicari penggemar ikan hias. Baru kali ini saya kaget adanya peraturan pelarangan peredaran Arapaima, karena ada yang buang ikan predator di sungai,” ujar Willy.

Ia mengaku dalam seminggu mampu menjual ikan jenis Arapaima sebanyak lima sampai ingga 10 ekor dalam seminggu.Pembelinya berasal dari luar Kota Semarang dan luar Pulau Jawa. Ikan Arapaima ukuran kecil dia jual per ekor Rp 2,5 juta. Ukuran besar Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta.

“Tapi seminggu terakhir penjualan saya turun drastis sampai 60 persen, mau nyetok juga takut rugi kalau tidak ada pembeli,” imbuhnya.

Mahalnya harga ikan ini di pasaran, karena biaya perawatan yang tinggi. Dalam sehari, ikan Araipama menghabiskan pakan berupa ikan-ikan kecil, jangkrik hingga udang seberat satu kilogram. Tak jarang, dia menyiasati mahalnya biaya pakan dengan memberi pakan ikan kecil yang sudah mati.

Menurut Willy, pembeli ikan hias jenis predator biasanya berasal dari hotel-hotel dan rumah makan di mana mereka gunakan untuk hiasan.

Dia mengaku mendapatkan pasokan ikan hias predator dari Kota Bogor. Setiap satu minggu atau dua minggu sekali dia memesan ikan. Namun, kini ia tak lagi memesan ikan, karena kondisi pasar sepi.

“Sebenarnya yang disalahkan bukan penjual, tapi para kolektor ikan hias yang tidak mampu memberi makan ikan predator,” kata Willy. (NIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here