BERBAGI
Satyo Cipto Sudarmo, 63 tahun, menunjukkan kompor minyak “Tugu Mas” buatannya di rumah sekaligus bengkelnya di Kampung Sawah Besar, Gang 7 RT 8/RW II, Gayamsari, Kota Semarang, Sabtu, 7 Juli 2018. (Foto kontributor serat.id)

 

Serat.id- Masa keemasan pengrajin kompor minyak tanah telah berlalu. Perubahan kebijakan energi mengubah kehidupan pengrajin. Produksi kompor terjun bebas. Karyawan hilang tak terbilang.

Penggunaan alat masak tradisional seperti kompor minyak kini kian tergerus dengan adanya kompor gas, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Satyo Cipto Sudarmo, salah pengarajin kompor minyak asal Kota Semarang.

Pria berusia 63 Tahun tersebut sudah puluhan tahun berkecimpung sebagai pengrajin. Dimulai tahun 1970-an, ia memproduksi kompor minyak yang terbuat dari bahan bekas seperti seng. Kompor hasil produksinya pun juga sempat alami masa kejayaan pada tahun 1990-an hingga tahun 2000.

“Kompor minyak yang saya buat berasal dari bahan bekas atau rosok seperti seng. Dulu banyak warga yang menggunakan kompor minyak. Sekarang zaman sudah berubah. Semua menggunakan kompor gas atau kompor listrik,” tutur Satyo kepada Serat di rumahnya, Kampung Sawah Besar, Gang 7 RT 8/RW II, Gayamsari, Kota Semarang, Sabtu, 7 Juli 2018.

Di rumah sekaligus sebagai bengkel itu, kompor minyak tanah masih menumpuk. Berlembar-lembar pelat seng menumpuk di sudut ruangan. Sumbu kompor menggunung tak terpakai.

Pelat seng didapatkan Satyo dari para pengepul barang-barang bekas. Ia ubah benda rosok seperi kaleng menjadi pelat untuk dirangkai menjadi badan kompor. Kompornya diberi merek “Tugu Mas” yang identik dengan salah satu ikon Kota Semarang yakni Tugu Muda.

“Waktu jaya pas tahun 1990-an dulu saya punya pekerja delapan hingga sembilan orang, jualnya pun bisa hingga ratusan kompor per minggu. Sekarang zaman sudah berubah. Produksi saya laris karena harga minyak tanah waktu itu murah,” ujar Satyo.

Kompor minyak produksi Satyo merupakan kompor industri rumahan, kini dirinya hanya hampu membuat tiga kompor minyak dalam sehari dan dikerjakannya sendiri. Produksinya menurun drastis sejak kebijakan pemerintah mengalihkan bahan bakar minyak menjadi gas pada tahun 2000.

“Dulu awal jualan kompor saat tahun 1970-an seharga Rp 400 per biji. Sehari produksi 300 kompor. Kalau sekarang maksimal cuma produksi 3 kompor sehari,” jelas Satyo.

Pada masa jayanya, pemasaran kompor minyak “Tugu Mas” di Kota Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, Solo dan Yogjakarta. Kini Ia hanya mampu menjual untuk pasar yang ada di Kota Semarang seperti Pasar Johar dan Pasar Peterongan. (NIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here