BERBAGI
Dugaan Plagiat Rektor Unnes
Ilustrasi Dugaan Plagiat Rektor Unnes

Serat.id– Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya Litera Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) secara resmi mengeluarkan keputusan terkait dengan artikel Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Fathur Rokhman yang dimuat dalam jurnal ilmiah itu.

Artikel Fathur berjudul “Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang terbit di jurnal Litera Volume 3, Nomor 1, Tahun 2004, halaman 12-26, dinyatakan tidak asli oleh Dewan Redaksi Litera.

Ketua Redaksi Litera, Prof Burhan Nurgiyantoro mengatakan, ketidakaslian itu karena sudah ada artikel yang telah dipublikasikan milik artikel Rida berjudul “Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi  Sosial  Santri  dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas”.

Artikel Rida dimuat pada Konferensi Linguistik Tahunan (KOLITA) 1 Unika Atma Jaya halaman 6-10 yang telah diselenggarakan pada 17-18  Februari  2003 di Jakarta.

“Tidak asli berarti meniru. Dan itu termasuk salah satu defenisi plagiat. Kami tidak mencabut artikel itu. Biar ada di jurnal sebagai barang bukti. Tapi, kesalahan bukan pada kami, melainkan pengarang,” kata Prof Burhan saat dikonfirmasi Serat, Jumat, 13 Juli 2018.

Baca juga: Mencuat di Majelis Profesor

Dalam dokumen pernyataan sikap resmi yang ditandatangani Prof Burhan pada Kamis, 12 Juli 2018, menunjukkan telah dijalankan upaya penelaahan dan penyandingan dua artikel itu dengan dua cara yakni secara manual dan menggunakan aplikasi turnitin.

Hasilnya, sebagian besar unsur makalah Anif Rida ditemukan dalam artikel Fathur Rokhman. Kemudian, ada unsur-unsur dalam artikel Fathur Rokhman tidak ditemukan dalam makalah Anif Rida.

“Fathur telah melanggar ketentuan yang ditetapkan jurnal Litera. Artikel yang dikirim harus asli yang berarti belum pernah dipublikasikan dalam jurnal atau majalah lain,” ujar Prof Burhan.

Menurut Prof Burhan, bukan Litera yang salah memuat, melainkan pengarang yang melanggar ketentuan aturan di dalam jurnal. Dia menilai pemuatan artikel Fathur tidak membuat akreditasi jurnal Litera dipersoalkan.

“Yang salah pengarang. Bukan jurnalnya. Kami tidak mau disalahkan, karena sudah ada aturan main yang jelas,” kata Guru Besar Linguistik UNY ini.

Dalam edisi investigasi Serat terkait dugaan plagiat Rektor Unnes, Prof Burhan mengaku kecewa dengan tindakan Prof Fathur. Setelah laporan itu terbit, dia mengaku dihubungi oleh Fathur beberapa kali. Namun, ia enggan mengungkapkan materi pembicaraan.

“Fathur itu teman saya. Dia menghubungi lebih dulu. Tapi soal ini (plagiat) sikap UNY sudah bulat demi menegakkan marwah dunia akademik,” ungkap dia.

Baca juga: Unnes Berkelit Dugaan Plagiat Tak Ada

Sebelum pernyataan itu dikeluarkan, dua hari sebelumnya pada Selasa, 10 Juli 2018, Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar temu media untuk menyampaikan pembelaan terkait dugaan plagiat.

Tim Investigasi Dugaan Plagiat yang diketuai Prof Mungin Eddy Wibowo yang tak lain adalah Ketua Majelis Profesor Unnes menegaskan dugaan plagiat Fathur tidak terbukti.

Tim itu mengklaim menemukan bukti penting yang mengugurkan dugaan plagiat Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, yakni adanya dokumen penelitian pada tahun 2002.

Dokumen itu, menurut Prof Mungin, memuat data-data berupa tabel dan paragraf yang sama dengan artikel ilmiah milik Anif Rida pada tahun 2003 dan artikel Fathur pada tahun 2004.

“Dokumen penelitian tahun 2002 asli dan tidak direkayasa. Pejabat yang menandatangani telah meninggal dan cap Unnes yang digunakan adalah logo Unnes lama,” kata Mungin.

Baca juga: Tim EKA Kemristekdikti Nilai Investigasi Unnes Tidak Teliti 

Namun, menurut anggota Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof Engkus Kuswarno, investigasi itu tidak cermat, karena ada dokumen terkait lain yang diabaikan.

“Saya tidak mau beberkan bukti-buktinya di sini. Tapi itu bukan hal baru bagi kami. Kami punya basis data tersendiri yang lebih luas. Kami segera melaporkan ke menteri terkait hasil investigasi kami,” jelas Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini. (ALI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here