BERBAGI
Wakil Dekan 3 FIP Unnes dan mahasiswa, saat pembubaran paksa diskusi, Sabtu malam, 14 Juli 2018. (serat.id/ M Shofi Tamam)
Wakil Dekan 3 FIP Unnes dan mahasiswa, saat pembubaran paksa diskusi, Sabtu malam, 14 Juli 2018. (serat.id/ M Shofi Tamam)

Serat.id – Diskusi tentang ruang demokrasi di kampus yang digelar mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), pada Sabtu malam, 14 Juli 2018, dibubarkan paksa oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Acara yang digelar di pelataran FIP Unnes itu dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang. Selain Unnes terdapat mahasiswa Unissula, Unwahas, dan Undip.

“Acara diskusi ini belum ada izinnya, kalau mau mengadakan diskusi dari kemarin harus izin terlebih dahulu dengan melampirkan surat”, ujar Wakil Dekan 3 FIP Unnes, Sungkowo Edi Mulyono, saat pembubaran paksa.

Pembubaran diwarnai cekcok antara wakil dekan 3 dengan penyelenggara yang menyatakan diskusi bagian kebebasan berekspresi untuk mahasiswa. Penyelenggara diksusi menyebut kegiatan itu bagian dari menyampaikan pendapat di muka umum.

“Kami diskusi di sini juga ada dasar hukumnya, diskusi menjadi hak seluruh masyarakat Indonesia”,  ujar penyelenggaran diskusi, Julio Belnanda Hariarja.

Julio mempertanyakan aturan perizinan yang dijadikan alasan pembenatu dekan 3. Menurut dia, diskusi yang dilakukan punya dasar hukum bagian menyampaikan pendapat di muka umum yang dilindungi undang-undang.

Seorang peserta diskusi asal Unissula Semarang, Zulkifli Mustofa, mengaku hadir ikut diskusi karena solidaritas dan kepedulian terhadap pendidikan tinggi. “Karena kami tahu di Unnes sedang bermasalah,” kata Zulkifli.

Diskusi di Unnes akhirnya bubar setelah adu argumen pada pukul 20.41 WIB, mahasiswa pindah tempat di simpang tujuh Sekaran. (TAM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here