BERBAGI
Kereta buatan Rijtuigmaatschapij voorheen fuchs batavia, kereta tua itu diyakini memiliki sejarah tersendiri yang erat kaitannya dengan “Freemason” sebuah organisasi rahasia yang pengikutnya pemuja setan. (Anindya Putri)

serat.id– Tiga kereta jenazah tua peninggalan zaman Belanda masih tersimpan rapi di sebuah gedung tua di daerah Ngentak, Kutowinangun Kidul, Salatiga. Kereta itu masih kokoh dengan ornamen khas aura kematian meski usianya mencapai 250 tahun.

Kereta buatan Rijtuigmaatschapij voorheen fuchs batavia memiliki sejarah tersendiri yang erat kaitannya dengan “Freemason” sebuah organisasi rahasia yang pengikutnya pemuja setan.

“Belum banyak orang yang mengetahui keberadaan kereta jenazah peninggalan kolonial Belanda tersebut,” kata Juru rawat kereta, Warin Darsono, kepada Serat  21 Juli 2018 lalu.

Keterkaitan dengan organisasi freemason dibuktikan dengan ornamen lambang organisasi freemason pada salah satu sisi tubuh kereta yang selama ini tidak banyak diketahui publik. “Lambang tersebut berupa gambar segitiga dan mata satu,” ujar Warin menjelaskan.

Catatanya menunjukan ketiga kereta jenazah berlambang freemason dibuat dengan tahun berbeda yakni tahun 1820, 1888 dan 1920 .

Freemason merupakan sebuah organisasi rahasia yang konon pengikutnya penganut paham setan dan tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 1896 organisasi tersebut masuk kedalam Kota salatiga dan memiliki beberapa pengikut pada zaman tersebut.

Warin yang juga pegiat sejarah urban legend salatiga menyebutkan keberadaan kereta jenazah itu punya kesamaan dengan kereta jenazah di beberapa tempat di Jawa Tengah seperti Tegal, Jepara, Purworejo, Magelang dan Salatiga.

Kereta buatan Rijtuigmaatschapij voorheen fuchs batavia di Salatiga ditempatkan di lokasi yang dulu tak jauh dari makam Belanda atau Kerkof yang kini telah disulap menjadi kantor Kecamatan Kutowinangun.

Sesuai fungsinya kereta itu digunakan membawa jenazah kalangan orang-orang Belanda serta petinggi pada zamannya. Namun seiring berjalannya waktu kereta tersebut sudah tidak difungsikan lagi dan hanya mangkrak di dalam sebuah garasi.

Pada tahun 2015 ketiga kereta jenazah tersebut didaftarkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang ada di Prambanan. Dua tahun kemudian, tepatnya 2017 kereta jenazah dikeluarkan dari garasi dikenalkan kepada masyarakat bahwa Kota Salatiga memiliki barang langka yang bernilai sejarah.

Perawatan kereta jenazah sendiri dilakukan oleh Warin dan komunitas pecinta cagar budaya yang ada di Salatiga, Boyolali dan Yogyakarta.

Perawatan dilakukan secara manual dengan membersihkan setiap dua minggu sekali dengan menggunakan bahan alami seperti cengkeh, pelepah pisang yang direndam dengan air selama sehari semalam dan garasi tempat penyimpanan kereta dengan menggunakan kopi serta bunga sedap malam untuk menjaga kelembaban agar terhindar dari jamur.

“Saya berharap agar pemerintah Kota Salatiga ikut andil dalam perawatan benda cagar budaya ini untuk dijadikan destinasi wisata, serta mampu mengenalkan pada generasi selanjutnya bahwa Salatiga memiliki benda cagar budaya,” kata Warin berharap. (NIN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here