BERBAGI
Pedagang ikan hias di Kota Semarang. Mereka dilibatkan meningkatkan pengawasan ikan invasif dan berbahaya. (Anin, Serat.id)

Serat.id-Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Klas II, Kota Semarang, menggandeng pedagang ikan hias untuk meningkatkan pengawasan ikan invasif  dan berbahaya. Pengawasan itu bagian dari kebijakan pemerintah yang melarang ikan invasif dilepas di alam bebas.

“Kami sudah menyosialisasikan kepada mereka sekaligus menginformasikan secara detail mengenai pelarangan ikan invasif dan berbahaya sesuai Permen KKP Nomor 14 Tahun 2014,” ujar Kepala BKIPM Klas II Kota Semarang, Gatot R Perdana, Kamis 27 Juli 2018

Para pedagang yang diajak mengawasi ikan invasif tergabung dalam Asosiasi Pedagang dan Pembudidaya Ikan Hias Semarang (APPIHIS). Tak hanya pengawasan, mereka  juga diajak mengembangkan usahanya hingga penjualan ke luar negeri.

“Selama ini  kan baru di pasaran lokal saja, maka dengan pelarangan ikan invasif bisa jadi peluang mereka untuk ekspor semakin terbuka lebar,” ujar Gatot menambahkan.

Menurut Gatot, lembaganya telah menampung aspirasi dan keluhan para pedagang ikan hias pasca pemberrlakukan larangan peredaran ikan invasif dan berbahaya tersebut.

“Ini merupakan momentum yang bagus bersama mengawasi pelepasliaran ikan invasif dan berbahaya,” ujar Gatot menjelaskan.

Tercatat saat ini masih ada masyarakat yang akan menyerahkan ikan invasif dan berbahaya di Posko BKIPM Manyaran. Penyerahan ikan invasif akan dilakukan seorang pemilik ikan hias dari, pengelola Taman Wisata Cimory Ungaran, sampai River Work.

Ikannya yang hendak diserahkan itu bisa dimusnahkan atau menjadi bahan penelitian. Tak menutup kemungkinan ada opsi lainnya untuk edukasi, namun keputusan itu menunggu penertiban izin.

Ketua APPIHIS, Danny Bayu, menyambut baik kerja sama ekspor ikan hias yang terjalin dengan BKIPM.  Ia berjanji akan memberikan penanganan khusus memantau pelepasliaran ikan invasif dan berbahaya yang biasanya dilakukan oleh para penyuka ikan hias.

“Kadang ada teman yang melepaskan ikan jenis  itu karena kurang edukasi dari pemerintah,” kata Danny.

Menurut dia, ikan invasif  seperti alogator jenis gar bisa merusak ekosistem air. Untuk mensosialsiasikan itu APPIHIS, akan mengelar acara sosialisasi kepada anggota dan komunitas pemelihara ikan hias.

“Pedagang ikan hias juga ikut serta menjaga keseimbangan ekologi lingkungan sekitarnya dengan baik,” katanya.

Tercatat anggota APPIHIS terafiliasi dengan enam komunitas ikan hias lain, mereka pemelihara ikan louhan, gold fish, ikan mas koki, beta , cupang dan penggemar aquascape. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here