BERBAGI

Spesies predator hutan yang banyak ditemui di India, Bangladesh, Nepal dan Bhutan itu melahirkan tiga bayi dari perkawinan Kliwon (jantan) dan Manis (betina). Ketiganya berjenis kelamin betina dan memiliki loreng berwarna hitam.

Ilustrasi Hari Harimau Sedunia 2018
Ilustrasi Hari Harimau Sedunia 2018

serat.id- Kabar bahagia itu datang dari sebuah kandang di ujung timur tak jauh dari kolam Taman Margasatwa Semarang, saat tiga bayi harimau Bengali dilahirkan pada Sabtu 2 Juni 2018.

Tiga bayi harimau atau sebutan latin panthera tigris itu lahir di tempat penangkaran satwa, mendekati satu bulan peringatan Hari Harimau Sedunia setiap tanggal 29 Juli.

“Kelahiran tiba-tiba saja, pagi ketika akan membersihkan kandang sudah ada beberapa bayi harimau di kandang,” kata Sohirin, 56 tahun, petugas perawat harimau Taman Margasatwa Semarang, kepada serat.id, Senin, 23 Juli 2018.

Sohirin mengaku  tidak tahu persis kelahiran tiga anak harimau itu. Begitu juga kelahiran harimau lain sebelumnya. “Tidak pernah menyaksikannya langsung,” ujar Sohirin menambahkan.

Karakter induk harimau selalu melahirkan secara alami menjadi alasan ia sulit melihat langsung proses membahagiakan itu. Petugas selalu menandai induk betina setelah proses kawin untuk mengetahui waktu lahiran. Biasanya sekitar tiga bulan perut indukan sudah membesar setelah kawin, tiga bulan itu mereka siap melahirkan.

“Setelah perut membesar, kami selalu memisahkan pejantannya. Sebab jika tidak nanti anaknya bisa dimakan,” ungkap Sohirin menjelaskan.

Menurut dia, perawatan harimau tidak dilakukan secara khusus, petugas sebatas memandikan sesekali saja. Sedangkan pada usia satu hingga tiga bulan anak harimau masih menyusu pada induknya, bayi imut raja hutan mulai disuplai sedikit daging cacah saat memasuki usia tiga bulan.

“Saat ini kami lebihkan porsi makan untuk induknya, biasanya 3,5 kilogram. Tapi khusus setelah melahirkan menjadi 4 kilogram,” katanya.

Kelahiran tiga bayi harimau kali ini menambah koleksi di Taman Margasatwa Semarang menjadi 15 ekor. Pengelola menyatakan seharusnya koleksi hewan buas itu bisa mencapai 19 ekor, namun beberapa mati disebabkan lahir abnormal dan persaingan makanan.

Baca juga: Masalah Baru Kelahiran Generasi Raja Hutan

Kelahiran itu bukan pertama kali, sejumlah catatan  menyebutkan Taman Margasatwa Semarang, mampu melahirkan empat anak harimau lahir dari Pasangan Rangga dan Manis pada Selasa 18 September 2012.

Sedangkan pada Sabtu 1 Januari 2014 pasangan itu juga melahirkan empat bayi. Pasangan pasangan Kliwon dan Rengganis juga menambah koleksi dengan tiga anak harimau lahir dari, Rabu 4 Januari 2017.

Manajer Operasional Taman Margasatwa Semarang, Kusyanto, mengatakan harimau Bengali yang melahirkan itu sebelumnya didatangkan dari Taman Rekreasi Margsatwa Serulingmas, Banjarnegara.

Kehadirannya sengaja untuk mengawinkan seekor harimau jantan pemberian seorang warga Semarang secara sukarela. “Dulu dari dua ekor. Sekarang sampai berjumlah 15 ekor,” ujar Kusyanto.

Menurut Kusyanto, perkembangbiakan harimau dikatagorikan sangat cepat, karakternya seperti kucing, sekali mengandung melahirkan 3 sampai 4 ekor. Begitu juga perkembangan fisiknya, dalam setahun anak harimau tingginya sama seperti harimau indukan, kurang lebih 60 sentimeter.

Baca juga: Simbol Raja Hutan Yang Terdistorsi

Dia mencontohkan tiga harimau kelahiran Januari 2017 yang bernama Berani, Landhep dan Lanthip sudah seukuran indukan. Perbedaannya hanya pada berat badan.

Sedangkan tiga bayi harimau yang baru lahir 2 Juni lalu masih belum terekspose ke publik, karena masih terus dipantau dan diletakkan di dalam kandang bersama induknya.

Direktur Taman Margasatwa Semarang, Samsul Bahri Siregar menyerahkan pemberian nama tiga bayi harimau kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang pada Selasa, 31 Juli 2019. “Kami akan undang kepala daerah ke kebun binatang sekaligus merayakan Hari Harimau dan memberi nama,” kata Samsul. (*)

Tim Indepth Hari Harimau Sedunia 2018.

Penyumbang bahan Belajar Bersama Serat.id I, Afsana Noor Maulida Zahro dan Lala Nilawati (Unnes), Fajar Bahruddin Achmad dan Muhammad Ainul Yaqin (UIN Walisongo Semarang). Editor Edi Faisol. Koordinator Liputan A. Arif. Penanggungjawab Zakki Amali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here