BERBAGI

Selain menambah kebutuhan kandang, peningkatan populasi harimau di Taman Margasatwa Semarang memerlukan biaya pakan. Manajemen juga belum mengantongi izin sebagai lembaga konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Induk Harimau Bengali di kandangnya yang sempit dan tanpa kolam air di Taman Margasatwa Mangkang, Kota Semarang, Jumat, 27 Juli 2018. (Foto Muhammad Ainul Yaqin/serat.idl)

Serat.id- Manajer Operasional Taman Margasatwa Semarang, Kusyanto, mengatakan kelahiran tiga ekor bayi harimau Bengali pada Sabtu 2 Juni 2018 menambah koleksi taman yang ia kelola. Namun ia mengakui bertambahnya hewan berjuluk raja hutan yang kini menjadi 15 ekor itu justru menjadi kelebihan populasi.

“Sebab dari segi infrastruktur seperti kandang belum memenuhi,” kata Kusyanto, kepada serat.id, Senin, 23 Juli 2018.

Menurut dia, kelahiran bayi harimau memerlukan kandang tambahan untuk menampung generasi baru. Kusyanto mengaku saat ini pengelola Taman Margasatwa Semarang telah memisahkan kandang harimau jantan dan betina untuk menahan laju populasi.

“Nantinya, harimau yang ada di sini akan kami kirim ke kebun binatang lain. Itu pun tergantung kesepakatannya. Saling hibah atau tukar-menukar,” kata Kusyanto menjelaskan.

Rencana itu terkendala karena Taman Margasatwa Semarang saat ini belum mengantongi izin konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menjadi dasar adanya memindahkan harimau ke kebun binatang lain.

“Karena belum ada izin jadi Lingkungan Konservasi dari KLHK, kita kewalahan untuk menampung harimau semua. Di samping biaya operasional untuk makanannya dan kandang tidak memadai,” kata Direktur Taman Margasatwa Semarang Samsul Bahri Siregar.

Masalah lain meningkatnya populasi harimau itu juga berpengaruh pada pengeluaran khususnya pembelian daging sapi dan ayam yang dipastikan meningkat. Setiap hari satu ekor harimau harus diberi makan daging 3,5 kilogram, dengan rincian daging sapi sebanyak 1 kilogram dan daging ayam sebanyak 2,5 kilogram. Secara keseluruhan biaya pakan semua hewan di sana menelan biaya Rp 200 juta per bulan.

Kusyanto menyebutkan cara lain untuk mengurangi populasi harimau dengan melepasnya ke alam terbuka. Namun itu cukup berisiko, sebab habitat asli harimau Bengali bukan di Indonesia, namun di India.

“Selain kesulitan beradaptasi, akan terjadi perkawinan campur Harimau Bengali dan Harimau Sumatera. Dan itu tidak bisa,” katanya.

Baca juga: Kelahiran Menjelang Hari Peringatan

Samsul mengatakan, saking kesulitan memenuhi pakan harimau, bayi harimau ada yang mati dimangsa induknya. “Sebenarnya harimau 17 ekor, tetapi yang 2 ekor mati karena dimakan oleh indukan saat baru melahirkan”

Soal Taman Margasatwa Semarang yang belum mengantongi izin, Sohib Abdillah, koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah mengatakan, status perizinannya masih dalam tahap proses pengajuan. “Ada delapan lembaga konservasi di Jawa Tengah. Kebun binatang Mangkang belum termasuk di dalamnya,” kata dia.

Kedelapan lembaga konservasi itu yakni, Serulingmas di Banjarnegara, Taman Safari Indonesia 4 atau Batang Dolphin Center di Batang, PT Wersut Seguni Indonesia (WSI) di Kendal dan Sido Muncul di Kabupaten Semarang. Kemudian, Dayu Alam Asri di Sragen, Taman Satwa Taru Jurug di Solo, Taman Satwa Gajah Mungkur di Wonogiri dan Taman Satwa Borobudur di Magelang.

Infografis Jejak Harimau
Infografis Jejak Harimau

Kandang Tak Layak

Peneliti Harimau dari Peduli Karnivora Jawa, Didik Raharyono mengatakan, indukan memangsa anak bukan melulu kekurangan pangan. Faktor lain berupa anak cacat, lemah dan induk masih muda, sehingga belum siap mengasuh.

“Ada hukum rimba di dunia harimau. Kalau induk melihat anaknya lemah dan cacat, itu dimakan. Hanya yang kuat yang dilahirkan dan diasuh. Itu mekanisme pengendalian harimau secara alamiah,” kata Didik yang 20 tahun terakhir meneliti harimau, kepada serat.id, Minggu, 29 Juli 2018.

Faktor kekurangan pangan dapat dilihat dari fisik harimau yang kurus. Namun, dari amatan serat.id di kandang harimau Taman Margasatwa Mangkang, postur tubuh harimau tak kurus. Namun, soal kandang display, Didik menilai masih belum ideal.

Di kandang harimau Taman Margasatwa Semarang tak ada kolam untuk berendam. Luasannya sekitar 5×5 meter.

Baca juga: Simbol Raja Hutan Yang Terdistorsi

Menurut Didik, luas kandang besi ideal untuk harimau ukurannya 10×6 meter atau 10×7 meter dengan aksesoris seperti kolam air untuk berendam. Arsitektur kandang harus mengadopsi habitatnya dengan memperhatikan kenyamanan harimau untuk bergerak, makan dan berlindung dari terik matahari.

Tapi, standar kandang itu menurut amatannya di pelbagai kebun binatang di Indonesia yang memiliki harimau, tak banyak diperhatikan pengelola. Akibat yang timbul dari kondisi kandang sempit harimau bisa stres.

“Harimau itu penjelajah. Butuh kolam untuk berendam. Kalau kandang sempit itu kurang memperhatikan kesejahteraannya. Kesannya dikerangkeng saja,” kata dia menambahkan Taman Safari Indonesia dapat jadi percontohan standar kandang.

Dia mendorong Taman Margasatwa Mangkang untuk segera mengurus perizinan lembaga konservasi menimbang jumlah harimau yang banyak.

“Semestinya saat ini tidak ada kesulitan konservasi harimau, karena sudah ada jaringan antar lembaga konservasi secara internasional. Ada juga lembaga funding yang bisa membantu memenuhi pangan,” kata Didik.

Menurut Sohib tahapan untuk mengurus izin lembaga konservasi tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.31/MENHUT-II/2012 tahun 2012. Di antaranya persyaratan berupa lembaga harus berbadan usaha, koperasi atau yayasan. Lalu harus ada rekomendasi bupati atau wali kota setempat, di mana lingkungannya membolehkan. Kemudian, pemohon membuat proposal berupa lokasi yang akan digunakan meliputi kandang, lahan parkir dan klinik hewan.

“Setidaknya lahan lembaga konservasi luasnya 2 hektare. Setelah ada permohonan, kami akan memeriksa administrasi dan kandangnya,” ujar Sohib.

Meski belum mengantongi izin, kata Sohib, Taman Margasatwa Mangkang rutin memberikan laporan sekali tiga bulan perkembangan harimau yang ada di sana. (*)

Tim Indepth Hari Harimau Sedunia 2018.

Penyumbang bahan Belajar Bersama Serat.id I, Afsana Noor Maulida Zahro dan Lala Nilawati (Unnes), Fajar Bahruddin Achmad dan Muhammad Ainul Yaqin (UIN Walisongo Semarang). Editor Edi Faisol. KoordinatorLiputan A. Arif. Penanggungjawab Zakki Amali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here