BERBAGI

Di tengah laju kepunahan harimau memunculkan berbagai fenomena. Macan, bukan lagi spesies fauna dengan nama latin panthera pardus identik dengan tutul-tutul, kini hadir tak lagi garang sebagai predator hutan.

Ilustrasi Hari Harimau Sedunia 2018
Ilustrasi Hari Harimau Sedunia 2018

Serat.id- Masyarakat umum menganggap macan dan harimau merupakan spesies yang sama. Secara ilmiah perbedaan itu disampaikan Koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Sohib Abdillah.

“Jika ditelisik lebih dalam, segi fisik maupun sifat pada kenyataannya sangat berbeda,” ujar Sohib Abdillah, kepada serat.id, Selasa, 24 Juli 2018.

Menurut dia, harimau dengan nama latin panthera tigris, cenderung bercorak loreng-loreng, sedangkan macan bernama latin panthera pardus identik dengan tutul-tutul seperti macan tutul dan macan kumbang.

“Harimau yang merupakan salah satu spesies dari kelompok kucing besar (big cat) yang secara kasat mata memiliki corak loreng pada tubuhnya, sedangkan macan merupakan spesies dari kelompok kucing sedang (middle cat),” ujar Shohib menjelaskan.

Baca juga: Kelahiran Menjelang Hari Peringatan

Peneliti harimau dari Peduli Karnivora Jawa, Didik Raharyono mengungkapkan penyamaan harimau dan macan hanya terjadi di Pulau Jawa. Menurut dia hal itu akibat dari identifikasi orang Jawa secara morfologi berdasar penglihatan.

“Jadi kalau ada kesaksian orang Jawa melihat macan harus dikejar ciri-cirinya untuk memastikan itu harimau atau macan. Mereka sebut macan juga harus dilihat corak kulitnya,” kata Didik yang meneliti harimau selama 20 tahun terakhir.

Kosa kata harimau berasal dari bahasa Inggris tiger, sedangkan macan terjemahan dari bahasa Inggris leopard. Orang Jawa, kata dia, tak memperhatikan asal kata ini, sehingga menyebut kucing besar dan kucing sedang ini sebagai macan. Begitu juga, lanjutnya, dengan orang Sunda yang menyebut maung.

“Untuk edukasi masyarakat terkait konservasi, macan bisa masuk dalam peringatan Hari Harimau Sedunia. Meski berbeda jenis. Tapi di masyarakat sudah mengakar. Mungkin perlu edukasi lebih lanjut soal perbedaan ini,” imbuh dia.

Permainan Bahasa

Macan simbol raja hutan akhir-akhir ini terdistorsi maknanya menjadi “mamah cantik” yang  sedang populer di tengah kepunahan macan sebenarnya.

Ahli Bahasa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Imam Baehaqie, kepada serat.id menyebutkan, fenomena macan yang sekarang lebih populer dimaknai “mamah cantik” merupakan plesetan bahasa yang mempunyai unsur sosiolinguistik.

Imam menilai istilah macan sebagai singkatan “mamah cantik” berkaitan erat dengan masyarakat dan interaksi sosial. “Sedangkan dalam makna dapat dikaji secara semantik atau pengetahuan mengenai seluk beluk dan pergeseran arti kata,” kata Imam.

Pengajar bahasa dan Sastra Indonesia itu menyebutkan dalam morfologi bahasa plesetan termasuk proses gabungan huruf atau suku kata yang ditulis dan dilafalkan sebagai akronimisasi yang wajar.

Akronimisasi sengaja diadakan dalam masyarakat, termasuk permainan bahasa untuk mencairkan suasana, mengakrabkan antar pembicara dengan hal yang ringan dan terkesan lucu. Hal itu terjadi karena salah satu dari 12 sifat bahasa yang  dinamis.

“Sifat manusia yang kreatif mendukung seseorang mengekspresikan sesuatu yang barangkali tidak sengaja dimunculkan,” ujar Imam menjelaskan.

Baca juga: Masalah Baru Kelahiran Generasi Raja Hutan

Menurut dia, tak hanya istilah macan yang sedang populer dengan sebutan “mamah cantik”, ia menyebutkan sejumlah istilah yang membanjiri masyarakat terutama warganet sehingga semakin populer.

Ia mencontohkan ayam kremes yang berarti “ayah muda keren dan bikin gemes”, tahu sumedang “wanita berambut sebahu sungguh menarik dipandang” dan ternak teri “nganter anak istri”.

Hal ini tak jauh berbeda dengan istilah-istilah Jawa yang teridentifikasi dengan sebutan kerata baha (asal usul). Seperti tumpeng yang dapat berarti “tumeko ing pengeran”, garwa (istri) “sigaraning nyawa”, guru “digugu lan ditiru” dan garbu “yen ora mbegar ora iso mlebu”.

Akronimisasi yang berbeda bahasa itu juga  diciptakan masyarakat secara sengaja maupun tidak. “Meskipun permainan bahasa mempunyai arti yang tidak sebenarnya, tetapi keuntungannya dapat mempermudah seseorang mengidentifikasi makna sesuatu,” katanya.

Imam menyebut istilah macan dengan “mamah cantik”  di tengah langkanya macan dalam arti  sebenarnya sebagai dampak fenomena bahasa yang sama sekali tidak masalah.

Munculnya plesetan “mamah cantik” dalam kata macan sama sekali tidak mengalihkan isu. Itu hanya permainan kata, namun fenomena akronimisasi menjadi “mamah cantik” ini secara tidak langsung mempengaruhi esensi dan urgensi macan karena referensinya berbeda.

Macan singkatan “mamah cantik” menjadikan makna macan dengan arti yang sebenarnya tidak terpikirkan dan terpinggirkan oleh masyarakat.

“Boleh jadi ada orang yang memikirkan macan dengan fenomena mamah cantik, tetapi ada juga yang memikirkan macan dengan arti yang sebenarnya,” kata Imam mengingatkan ke publik.

Toh, ia menilai sebutan macan tidak ada maksud untuk menutupi fenomena langkanya macan maupun dan bermaksud tidak mendukung pelestarian satwa. (*)

Tim Indepth Hari Harimau Sedunia 2018.

Penyumbang bahan Belajar Bersama Serat.id I, Afsana Noor Maulida Zahro dan Lala Nilawati (Unnes), Fajar Bahruddin Achmad dan Muhammad Ainul Yaqin (UIN Walisongo Semarang). Editor Edi Faisol. KoordinatorLiputan A. Arif. Penanggungjawab Zakki Amali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here