BERBAGI
Mahasiswa berlatih lagu khas Gambang Semarang dengan gamelan di gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 29 Juli 2018. (Foto Anindya Putri)

Serat.id- Tari khas Kota Semarang mati suri. Tari Gambang Semarang yang lahir pada tahun 1960-an, telah tertinggal dalam derap perkembangan kota.

Sepanjang tahun ini, upaya menggali penyebab kemunduran tari itu melalui diskusi-diskusi dengan menghadirkan pelaku kesenian dan maestro pencetus Gambang Semarang. Lembaga budaya Anantaka getol menggelar diskusi. Putaran terakhir diskusi pada 15 Agustus 2018 mendatang.

Sekertaris Anantaka, Johanys Adityawan mengatakan, perlu pemetaan masalah yang membelit Gambang Semarang. Pihaknya mencari cara untuk menghidupkan lagi tari Gambang Semarang. Selama ini hanya ada tiga komunitas di Kota Semarang yang terjun untuk mengembangkan.

“Tentang bagaimana ada beragam keaslian tarian yang muncul dengan prosesnya yang berbeda. Dan bagaimana saja keaslian tari Gambang Semarang. Itu yang akan kita gali mendalam lagi sebagai ikon budaya Kota Semarang,” kata Johanys, Minggu 29 Juli 2018.

Ia menambahkan penggalian potensi ini perlu dilakukan untuk mengedukasi masyarakat seperti apa saja keunikan tarian ini. “Sudah tiga kali diskusi dan puncaknya 15 Agustus nanti di Ourdetrap Kota Lama,” kata dia.

Tiga komunitas yang saat ini mengembangkan yakni Gambang Semarang Art Company (GSAC) pimpinan Danang Respati, Kelompok Gambang Semarang (KGS) pimpinan Dewi Yuli dan Nang Nok pimpinan Grace W Santoso.

Grace menuturkan tarian Gambang Semarang kurang menyentuh di hati warga lantaran tenggelam derap dinamika warga kotanya yang fokus pada sektor pembangunan dan jasa.

“Berbeda dengan Yogyakarta yang memang basis kultur budaya yang kuat, Semarang ini kan basisnya jasa. Maka rasa-rasanya warganya seperti enggan mempromosikan tariannya sendiri,” kata Grace.

Alasan lain yang menyebabkan kemunduran tari ini, menurut Grace adalah gerakan tarinya yang bisa membuat penonton menjadi bosan.

“Nah, nantinya kita coba berinovasi dengan perkembangan budaya kekinian biar anak-anak muda ini mau menerima dan percaya diri mempertontonkanya di ruang publik,” ujar Grace.

Johanys menambahkan, komunitas pelestari tari ini perlu dorongan untuk keluar dari pakem dengan maksud mengembangkan tari agar masyarakat menerimanya. Selain itu, komunias juga perlu mengajak anak muda untuk mengeksplorasi seni gerak dan lagu.

“Kesenian ini akan terus hidup bila mampu keluar dari pakem dengan mengembangkan pola tariannya. Varian tari dan lagu memungkinkan berkembang lebih luas,” kata Johanys. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here