BERBAGI

Sekolah dan warga membantah lingkungan menjadi penyebab wabah difteri.

Ilustrasi Semarang KLB Difteri
Ilustrasi Semarang KLB Difteri

Serat.id- Abu Yahya merasa kehilangan kepergian Bunyamin, salah satu siswa kelas 6 di Ma‘had Ta‘zimus Sunnah Kota Semarang. Rois atau kepala sekolah sekolah tingkat dasar swasta itu tak meyangka Bunyamin yang dikenal sangat rajin dan disiplin telah pergi selamanya karena penyakit difteri.

“Bunyamin saat di sekolahan itu anaknya rajin, pendiam, dan juga disiplin ilmu,” ujar Abu Yahya, kepada serat.id, Selasa 24 Juli 2018.

Bocah kelas 6 dan anak keempat dari tujuh bersaudara itu terserang difteri. Ia mengembuskan nafas terakhir pada Kamis, 19 Juli 2018 pukul 17.00 dengan kenangan yang baik buat guru, kawan sekolah termasuk saudara kandungnya.

Baca juga: Petaka Yang Selalu Terulang

Serangan virus mematikan itu telah dirasakan menyerang Bunyamin sejak hari Rabu 11 Juli 2018, hal itu diketahui sekolah saat ia izin sakit. Pada Senin 16 Juli 2018 ia dilarikan ke Puskesmas Genuk. Dari Puskemas diketahui bocah yang dikenal rajin dan disiplin itu terkena difteri.

Tak hanya Bunyamin, keempat saudaranya juga terjangkit wabah difteri dan sama-sama dilarikan ke RSUP Dr Kariadi Semarang. Pada Selasa 24 Juli 2018 lalu mereka masih dirawat di rumah sakit.

Ihwal kematian Bunyamin itu, Yahya membantah opini yang menyebutkan difteri muncul pengaruh lingkungan termasuk sekolah di kampung. Ia mengaku kecewa dengan pemberitaan baru-baru ini tentang wilayah Dong Biru menjadi Zona Merah. “Saya kecewa dengan pemberitaan yang menganggap Dong Biru menjadi Zona Merah,” ujar Abu Yahya.

“Di sekolahnya kebersihan selalu dijaga karena di setiap kelas ada piket kelas untuk para murid, di lingkungan sekolah juga ada petugas kebersihan sendiri,” kata Abu Yahya menjelaskan. Bahkan ia mengaku saban bulan di lingkungan kampung rutin diadakan kerja bakti bersih-bersih lingkungan.

Baca juga: Difteri dan Cara Pencegahannya

Hal ini dibenarkan Juwari, ketua RT 11 RW 3, Kampung Dong Biru, Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk, menyatakan jauh hari sebelum difteri menyerang bocah di kampungnya itu sudah rutin kerja bakti. Ia juga mengaku sudah melakukan sosialisasi kepada warganya untuk menangani wabah difteri.

“Mulai dari penerangan cahaya rumah, sirkulasi udara yang cukup, sesuai arahan dari Dinkes,” kata Juwari.

Menurut dia, sebelum kejadian itu terjadi Pos pelayanan terpadu (Posyandu) selalu berjalan rutin sebulan sekali. “Warga juga selalu taat untuk mengantarkan anaknya ikut Posyandu,” katanya. (*)

Tim Indepth KLB Difteri Semarang

Penyumbang bahan Belajar Bersama Serat.id I, Muhammad Shofi Tamam (Unwahas), Ulil Albab Al Shidqi (Undip), Anindiya Putri (reporter). Editor Edi Faisol. Koordinator Liputan A. Arif. Penanggungjawab Zakki Amali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here