BERBAGI

Difteri di Kota Semarang sudah ada sejak tahun 2010, sedangkan kurun Desember 2017 hingga Juli 2018 penderita difteri mencapai 24 orang dan menimbulkan dua bocah di Kecamatan Genuk meninggal.

Ilustrasi Semarang KLB Difteri
Ilustrasi Semarang KLB Difteri

Serat.id- Kematian sejumlah bocah di Kota Semarang akibat virus difteri menjadikan pemerintah setempat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium itu menyebar lewat udara.

“Jadi kalau KLB itu suatu hal menurut epidemiologis itu dari awalnya 0 menjadi ada, dari 0 menjadi 1 itu sudah KLB,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mada Gautama, kepada  serat.id, 25 Juli 2018.

Mada memastikan status KLB ditetapkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, sedangkan pencabutan status akan diukur dari sisi ada surveilance yang akan melihat perkembangan penyakit tersebut.

Baca juga: Bocah Rajin dan Disiplin Itu Telah Pergi

Mengenai difteri yang mewabah itu, Mada menyebutkan semua bakteri dipastikan selalu ada di setiap daerah, namun ia mengingatkan yang menjadi permasalahan daya tubuh. Menurut dia, difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

“Bakteri itu akan menyerang di tenggorokan, dan itu nanti akan terbentuk sel, lapisan putih, semacam itu dan menyebabkan kematian apabila dia mengalami gejala sesak nafas,” ujar Mada menjelaskan.

Bakteri tersebut dapat menyebar lewat udara dan akan terlihat seperti gejala sakit batuk dan flu, untuk itu ia menyarankan penanganan terhadap difteri dapat dilakukan jika anak-anak di Semarang melakukan imunisasi.

Catatan serat.id, difteri di Kota Semarang sudah ada sejak tahun 2010 dengan penderita enam kasus, penyakit itu muncul kembali 2017 dengan seorang bocah terindikasi difteri. Sedangkan kurun Desember 2017 hingga Juli 2018 penderita difteri mencapai 24 orang dan menimbulkan dua bocah asal kecamatan Genuk meninggal.

Jumlah ini memprihatinkan meski begitu sejumlah tenaga medis enggan berkomentar ketika ditanya apakah Semarang masuk zona merah penyakit mematikan itu.

“Saya prihatin dengan banyaknya warga yang terjangkit difteri, namun saya no comment jika harus menyatakan di sini masuk dalam Zona Merah, karena itu bukan wewenang saya,” ujar dokter anak Hapsari, yang menangani penderita difteri di Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr Kariadi, Kota Semarang.

Ia menjelaskan total pasien yang dirawat akibat difteri di ruang isolasi berjumlah enam orang, sedangkan korban meninggal asal luar Kota Semarang mencapai dua orang, tepatnya asal Kabupaten Temanggung.

Baca juga: Difteri dan Cara Pencegahannya

“Terpaksa membuat ruang isolasi darurat, biasanya berisi dua orang kini kita buka untuk enam orang. Hal tersebut kita lakukan untuk perawatan intensif dan menampung pasien difteri,” kata Hapsari, menjelaskan.

Difteri ini juga membuat  Pemerintah Kota Semarang menggelar Outbreak Responze Immunization (ORI) selama tiga hari di tiga daerah meliputi Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang, Kelurahan Bangetayu, dan Kelurahan Genuk Sari Kecamatan Genuk.

“Ada rapat koordinasi di situ dilaksanakan awalnya 23 Juni 2018 di Tandang, kemudian di Bangetayu pada tanggal 18 Juli, di Banjardowo 18 juli,” ujar Ketua Komisi D DPRD Semarang, Anang Budi Utomo, ketika dihubungi serat.id, Jumat, 27 Juli 2018.

Anang menyebut ORI dilaksanakan untuk memberikan vaksin DPT terhadap keseluruhan balita. (*)

Tim Indepth KLB Difteri Semarang

Penyumbang bahan Belajar Bersama Serat.id I, Muhammad Shofi Tamam (Unwahas), Ulil Albab Al Shidqi (Undip), Anindiya Putri (reporter). Editor Edi Faisol. Koordinator Liputan A. Arif. Penanggungjawab Zakki Amali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here