BERBAGI
Tongkang batubara dibawa ke muara Sungai Samarinda untuk dibawa kembali ke PLTU atau ekspor ke negara luar. (Foto kontributor Serat.id Tommy Apriando)
Tongkang batubara dibawa ke muara Sungai Samarinda untuk dibawa kembali ke PLTU atau ekspor ke negara luar. (Foto kontributor Serat.id Tommy Apriando)

Serat.id- Dua puluh tiga warga kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Lalu mengeluh merasakan sakit sesak nafas, bahkan beberapa terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan kanker getah bening. Dua tahun terakhir, terdapat warga meninggal secara tiba-tiba, karena sakit kanker dan paru-paru.

“Ada korban cairan paru-parunya disedot dan mengeluarkan cairan hitam kental seperti kopi,” kata Yuyun Ismawati dari Bali Fokus, Senin, 30 Juli 2018.

Lanjut Yuyun, di Oktober 2017, Safitri 23 tahun, tinggal di RT 2, RW 6, Kelurahan Panau, Kota Palu meninggal dunia, divonis mengidap paru-paru. Tiga bulan dirawat, namun akhirnya meninggal dunia. Ada pula, Novianti, usia 43 tahun, warga RT 2, RW 2, Kelurahan Panau.

Ia terkena kanker Nasofering stadium empat. Penciumannya terganggu, dua kali penyedotan cairan hitam di belakang rongga hidung di Rumah Sakit Dharmais Jakarta, dari hasil rekam medik dan analisis dokter, hal itu dikarenakan dampak pencemaran udara dari limbah industri.

“Rumah warga yang jadi koresponden sangat dekat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara. Hanya puluhan meter,” kata Yuyun.

Lanjutnya, keberadaan PLTU Batubara di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang berdekatan dengan pemukiman warga tentu akan berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan, namun tak pernah dihitung sebagai suatu dampak jangka panjang dalam analisis lingkungan hidupnya.

Baca juga: Energi Terbaharukan, Solusi Atas Pembengkakan Energi 

Tak hanya di Palu, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada April 2018, 39 warga terkena penyakit gangguan pernafasan. Dua desa, yakni Winong dan Menganti, sangat dekat dengan PLTU Karangkadri, berkapasitas 1200 Megawatt.

Fahmi, dari Wahana Lingkungan Hidup Jawa Tengah mengatakan, debu PLTU menyelimuti atap rumah dan tanaman warga, warga terkena penyakit sesak nafas, bahkan nelayan sudah dapat ikan, akibat pesisir lautnya rusak.

“Dampak PLTU tak hanya polusi debu, menurunnya kesehatan warga, tapi juga penghidupan para nelayan,” kata Fahmi.

Lanjutnya, saat ini akan dibangun tambahan kapasistas 1×1000 Megawatt, ini akan berdampak lebih parah para kesehatan manusia di sekitar PLTU.

Penelitian Greepeace Indonesia bersama bersama Universitas Harvard tahun 2015 ditemukan dampak polusi udara PLTU Batubara di Indonesia terhadap kesehatan. Hasil penelitian mengungkap angka estimasi kematian dini akibat PLTU Batubara yang saat ini sudah beroperasi, mencapai sekitar 6.500 jiwa/tahun di Indonesia. Penelitian serupa juga dilakukan di berbagai negara Asia lainnya.

Hindun Malaika, dari Greenpeace Indonesia mengatakan, meski jelas dampak PLTU terhadap kesehatan manusia, faktanya pemerintah Indonesia tetap berencana menambah puluhan PLTU Batubara baru.

Jika rencana tersebut terwujud, korban kematian dini dapat bertambah hingga 15.700 jiwa/tahun di Indonesia dan estimasi total 21.200 jiwa/tahun termasuk di luar Indonesia.

“Kematian dini tersebut disebabkan peningkatan resiko penyakit kronis pada orang dewasa dan infeksi saluran pernapasan akut pada anak akibat paparan partikel halus beracun dari pembakaran Batubara,” kata Hindun.

Lanjutnya, PLTU Batubara adalah mesin penebar maut. PLTU mengeluarkan polusi yang membunuh, meracuni udara, menyebabkan gangguan kesehatan dan kerugian yang luas untuk pertanian, perikanan, lingkungan, dan perekonomian masyarakat.

Alih-alih membangun yang baru, seharusnya pemerintah menutup pembangkit-pembangkit bertenaga batubara tersebut. Menghirup udara yang bersih dan segar adalah hak yang mendasar dan terpenting bagi manusia.

“Suatu kewajiban bagi pemerintah Indonesia untuk memenuhi hak mendasar ini bagi rakyatnya,” kata Hindun.

Kata Hindun, PLTU Batubara tersebar dan beroperasi di Indonesia, melepaskan jutaan ton polusi setiap tahunnya. Dari waktu ke waktu PLTU itu mengotori udara kita dengan polutan beracun, termasuk merkuri, timbal, arsenik, kadmiun dan partikel halus namun beracun, yang telah menyusup ke dalam paru-paru masyarakat.

Polusi udara adalah pembunuh senyap, menyebabkan 3 juta kematian dini (premature death) di seluruh dunia, di mana pembakaran batubara adalah salah satu kontributor terbesar polusi ini.

“Polusi udara menyebabkan peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan,” kata Hindun.

Ia menambahkan, terus digunakannya PLTU Batubara sebagai energi di Indonesia, membuatnya tak yakin komitmen pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca 29 persen pada 2030 atau 41 persen dengan bantuan internasional, sesuai Perjanjian Paris, dapat tercapai, kala proyek energi nasional 35.000 Megawatt mengutamakan batubara.

Ia menyatakan, saatnya pemerintah Indonesia menyesuaikan arah pembangunan sektor energi setelah berkomitmen menahan laju kenaikan suhu kurang dua derajat.

Dunia, kata dia, harus nol emisi tahun 2060-2080. Berarti 2050 dunia harus meninggalkan ketergantungan energi fosil. Kemiskinan energi 13-15 persen penduduk Indonesia bisa selesai kala sumber energi terbarukan diambil langsung dari sumber lokal, baik panas bumi, air, matahari atau angin dan lain-lain.

Lanjut Hindun, desentralisasi listrik sistem terbaik menjangkau masyarakat di kepulauan, tak akan banyak hilang daya di transmisi dan lebih efisien secara biaya. PLTU batubara bukanlah solusi keadilan energi di Indonesia.

“Pemerintah harus beralih ke energi terbarukan yang tak membahayakan warga baik kesehatan, lingkungan dan konflik sosial. PLTU menjadikan pemiskinan sistematis dan tak pernah dievaluasi cermat. Tak ada yang bertanggung jawab ketika dampak PLTU terjadi,” kata Hindun. (*)

Kontributor Serat.id: Tommy Apriando

Editor: Zakki Amali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here