BERBAGI

Serat.id – Seorang warga bernama Angga Irawan, 35 tahun, yang ditangkap anggota Densus 88 dikenal jarang bersosialisasi. Bahkan selama empat tahun tinggal di Manyaran ia belum pernah menyerahkan surat pindahan.

Ilustrasi Teroris (www.flickr.com)
Ilustrasi Teroris (www.flickr.com)

“Tidak menyerahkan surat pindahan serta jarang bersosialisasi dengan warga sekitar dan tidak pernah ikut kegiatan kampung,” ujar Ketua RT setempat, Ahmad Nurhadi saat ditemui serat.id, Minggu Siang 5 Agustus 2018.

Bahkan Ahmad mengaku juga sempat diperingatkan anggota Babinsa di Kelurahan Manyaran yang menyebutkan Angga sempat menjadi sales obat serta mensuplai obat-obatan untuk jaringan Santoso yang ada di Poso.

“Saya pernah diberitahu orang Babinsa sebelum Angga jadi PNS di Kendal bekerja sebagai sales obat jadi pensuplai obat-obatan jaringan Santosa di Poso,” katanya.

Angga Irawan ditangkap oleh satuan Detasemen khusus anti teror di luar rumahnya sekitar pukul 15.30 WIB, Sabtu 4 Agustus 2018. Selain ditangkap rumahnya juga digeledah dan menemukan tiga buku berpaham radikalisme di dalam lemari merah serta satu buah kursi berukir garuda tanpa mata.

“Saya lihat petugas menemukan tiga buku dan satu kuris berukir Garuda yang tidak ada matanya, seperti habis ditusuk-tusuk namun tidak ditemukan bahan peledak,” ujar Ahmad menjelaskan.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, membenarkan penangkapan tersebut. “Iya betul di Tegal ditangkap 2 pelaku, terduga teroris anggota JAD dan di Semarang 1 terduga teroris,” ujar Condro. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here