BERBAGI

Mahasiswa KKN Unnes dan perangkat desa menunjukkan briket bonggl jagung. (Foto dokumentasi KKN Unnes)

SEMARANG– Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Keilmuan Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengubah bonggol jagung menjadi briket.

Lewat program KKN di Desa Sumberejo, Mranggen, Demak sepanjang Mei-Juli 2018 lalu, tim KKN Unnes berhasil membuat terobosan baru di bidang pertanian.

Dengan program yang didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, tim KKN Unnes didampingi dosen pembimbing dari jurusan Fisika, Masturi, mengembangkan energi terbarukan dari limbah jagung di desa tersebut.

Masturi mengatakan, selama ini hasil jagung di desa tersebut melimpah, yakni mencapai 450 ton.

“Hal ini didukung dengan data lahan pertanian di daerah Sumberejo mencapai 300 Hektar dari total 400 Hektar lahan pertanian desa setempat,” katanya, Selasa, 7 Agustus 2018, sebagaimana rilis kepada serat.id.

Dengan melimpahnya hasil panen jagung tersebut berimbas pada banyaknya bonggol jagung yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Selama ini pemanfaatan limbah jagung hanya berkisar sebagai bahan bakar pengasapan ikan asin, namun dalam bentuk bonggol yang utuh dan langsung dibakar.

“Itupun tidak semua dimanfaatkan menjadi bahan bakar. Bahkan mayoritas dari warga membuang atau membakarnya begitu saja,” sebutnya.

Melihat kondisi itu, jelas dia, tim KKN beserta dosen pembimbing mengkaji tentang pemanfataan bonggol jagung yang belum maksimal.

“Maka terciptalah briket bonggol jagung yang diharapkan dapat menanggulangi melimpahnya limbah bonggol jagung,” bebernya.

Gayung bersambut, sosialisasi yang diadakan mendapatkan respon positif warga Sumberejo. Mereka pun mempunyai tekad yang kuat untuk mengubah limbah yang ada menjadi briket.

“Sisi lain, kita berharap adanya briket bonggol jagung ini juga menaikkan perekonomian dengan mengolah kearifan lokal yang ada pada masyarakat Desa Sumberejo yang didominasi oleh petani jagung,” tambah Masturi.

Kepala Desa Sumberejo Supriyadi menambahkan, pihaknya siap untuk memfasilitasi alat untuk keberlanjutan program ini.

“Saya juga sangat berterima kasih kepada Tim KKN Keilmuan Unnes yang bersedia membantu
kami untuk mengubah limbah bonggol menjadi briket,” tuturnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here