BERBAGI
Ilustrasi kekerasan (foto pixabay.com)

Serat.id- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap warga yang ditangkap dalam operasi penertiban awal bulan Agustus lalu.

Korban bernama Ragil Berlian, 20 tahun, warga Kampung Gunung Brintik, Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarangs Selatan, Kota Semarang telah mengadukan tindakan kekerasan kepada Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Jawa Tengah.

“Pelaku kekerasan dari Satpol PP berjumlah hingga 10 orang, itu berdasarkan pengakuan korban,” kata, aktivis PBHI Jateng, Ahmad Rifan, yang mendampingi korban, kepada serat.id, Senin 13 Agustus 2018.

Menurut dia, Ragil dan sejumlah kawannya ditangkap Satpol PP di kawasan Tugu Muda pada 1 Agustus 2018. Ia dinaikan truk dan dibawa ke kantor Satpol PP jalan Rongolawe. “Di kantor itu korban dianiaya dengan cara dicambuk dan hingga disulut rokok,” kata Rifan menjelaskan.

Kekerasan yang dilakukan itu menimbulkan luka dipunggung dan kepala, sedangkan korban telah dilepaskan dan pulang ke rumah. Kepada serat.id, Rifan menjelaskan, korban dipukul dan disulut rokok karena dinilai melawan.

Namun Rifan menilai hal itu tak perlu terjadi karena melanggar peran Satpol PP yang seharusnya melindungi dan mengayomi publik dalam menjalankan peran penegak peraturan daerah. Dengan kejadian itu PBHI telah mengusut tindak kekerasan yang dilakukan Satpol PP ke ranah hukum agar bertangungjawab.

“Tak seharusnya Satpol melakukan tindakan kekerasan. Itu tindakan pidana dan melanggar HAM,” katanya.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martanto, menyatakan siap bertangungjawab terhadap insiden pemukulan yang dilakukan anak buahnya. “Buat laporan tertulis tunjukan Kasat Pol PP saya akan saya periksa,” kata Endro.

Endro menjamin sanksi bagi anggotanya jika nanti terbuki salah. “Sanksi pasti ada selama aduan dan korban jelas,” kata Endro menegaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here