BERBAGI
Konsolidasi eksponen 98, di Rumah Bloger Indonesia, Jalan Apel III nomor 27 Surakarta, Minggu 19 Agustus 2018. (Foto dokumentasi)

Serat.id- Eksponen 98 Jawa Tengah yang tergabung dalam Syarikat Mahasiswa 98 dan Keluarga Besar Aktivis 98  menggelar konsolidasi  di Solo. Mereka adalah jejaring aktivis mahasiswa yang berperan penting dalam gerakan reformasi tahun 1998.

“Kami sebagai bagian elemen pergerakan yang berjuang dalam perubahan di tahun 1997/1998, berpendapat selama 20 tahun perjalanan reformasi sejak 1998 telah memunculkan banyak hal,” kata peserta konsolidasi Keluarga Besar Aktivis 98, Siti Alfijah, dalam siaran persnya, Minggu 19 Agustus 2018.

Alfijah menyebut perubahan itu sekaligus memunculkan situasi yang tidak diharapkan di antaranya radikalisme dan terorisme atas nama agama. Situasi telah mendorong eksponen 98 turun kembali ke gelanggang menyuarakan lebih nyaring bahwa radikalisme dan terorisme adalah musuh bersama bagi kemanusiaan.

“Dan kehadiran radikalisme dan terorisme bukanlah menjadi tujuan dari gerakan reformasi 1998,” kata Alfijah menambahkan.

Konsolidasi dilakukan pada Minggu 19 Agustus 2018, di Rumah Bloger Indonesia, jalan aple III nomor 27 Surakarta. Selain menolak radikalisme dan terorisme, agenda konsolidasi tersebut melakukan refleksi bersama atas perjalanan 20 tahun gerakan reformasi, khususnya terkait dinamika politisasi SARA di Indonesia dan Jawa Tengah, serta jembatan komunikasi dengan sejumlah pihak mitra stategis untuk melawan politisasi SARA di ruang publik.

“Serta merumuskan Petisi Solo untuk melawan intoleransi, radikalisme dan terorisme,” katanya.

Koordinator Syarikat Mahasiswa 98, Jawa Tengah, Singgih Nugroho, menyatakan pertemuan para eksponen 98 Jateng juga sebagai refleksi kebangsaan bertepatan dengan momentum kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 tahun.

“Salah satu hal penting yang diwariskan para pendiri bangsa ini adalah kesediaan menjadikan negeri ini sebagai payung bersama dari seluruh rakyat Indonesia yang majemuk, terutama dari sisi Suku, ras etnis, dan Agama dalam wadah Pancasila,” kata Singgih.

Ia menjelaskan para pendiri bangsa telah melakukan konsensus politik yang membingkai pemikiran dalam Pancasila sebagai manifestasi dari cara pandang atas kehidupan yang digali dari kebudayaan leluhur bangsa Indonesia.

“Pancasila juga mencerminkan pikiran para founding fathers, bahwa Indonesia didirikan bukan hanya untuk individu maupun satu golongan saja,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here