BERBAGI
Penggali kubur memindahkan jenazah akibat pemakaman tergusur proyek Tol Semarang-Batang, di Kampung Klampisan, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Senin, 20 Agustus 2018. (Foto Anindya Putri)

Serat.id- Ribuan jenazah yang terkubur di makam tua Kampung Klampisan, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang terkena dampak pembangunan tol Batang – Semarang. Pemindahan jenazah berlangsung selama sebulan sejak 15 Agustus 2018.

Koordinator pemindahan jenazah, Suyono mengatakan, ada 1.200 makam yang terkena dampak tol. Rencananya penguburan jenazah itu pada pemakaman baru yang berjarak antara 500 meter dari lokasi saat ini.

“Ada 70 tim penggali kubur yang terlibat. Kita targetkan sehari mampu membongkar 100 makam, namun sampai saat ini sehari baru mampu membongkar dan memindah 80 makam saja. Selama proses pembongkaran itu juga dibantu dengan 4 ahli spiritual untuk mencari apakah makam itu ada isinya atau tidak,” kata Suyono kepada serat.id, Senin, 20 Agustus2018.

Pekerjaan relokasi makam secara mannual sudah berjalan sepekan. Setiap hari, penggali bekerja mulai pukul 07.00 sampai pukul 17.00. Mereka telah memindahkan 287 jenazah.

Makam saat ini berada di area seluas 5.300 meter persegi, sedangkan pemakaman baru memiliki luas 12.000 meter persegi.

Nantinya dilahan yang baru direncanakan akan dibagun pendopo untuk menghormati tokoh masyarakat yang merupakan sesepuh desa yang pertama kali dimakamkan di lokasi itu atau sering disebut Mbah Klampis.

“Ada enam tokoh yang dituakan dan dianggap sesepuh dari makam klampisan yaitu Nyi Turiah, Syekh Hasanudin, Mbah Panggeng, Nyi Klampis dan Mbah Klampis itu sendiri. Nantinya akan dibangunkan pendopo untuk makam mereka sebagai bentuk penghormatan,” imbuhnya.

Ia menambahkan kendala dari pembongkaran dan pemimdahan jenazah ada di lahan makam yang baru, lantaran tanah yang digali merupakan tanah padas. Sedangkan tanah pada makam yang lama dekat dengan aliran sungai sehingga mudah saat dilakukan bongkar.

“Agak terkendala saat menggali makam yang baru karena tanahnya keras. Kalau makam lama kan dekat aliran sungai jadi tanahnya empuk mudah saat digali,” tuturnya.

Selama proses pemindahan jenazaah, kata Suyono, ada enam jenazah yang masih utuh meski telah berada di pemakaman selama bertahun-tahun. Selain itu, terdapat kejadian ganjil saat dilakukan pemangkasan pohon Beringin yang berada di sekitar makam yang telah berumur ratusan.

“Pohon beringin yang harusnya dijatuhkan kearah barat oleh para pemotong pohon justru jatuh ke timur selang beberapa saat ada angin puting beliung selama satu menit,” jelas pria yang juga selaku ketua RW di Kampung Klampisan.

Ia melanjutkans, proses pemindahan makam dengan doa bersama bersama warga sekitar dan ahli waris dan selamatan agar berjalan lancar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here