BERBAGI
Monyet ekor panjang di objek wisata Goa Kreo, Gunungpati, Kota Semarang. (Foto Anindya Putri)

Serat.id- Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Jawa Tengah menilai musim kemarau yang terjadi di Jawa Tengah memicu satwa liar khususnya monyet ekor panjang keluar dari habitatnya untuk mencari makan dan merusak hasil pertanian warga.

“Masuk musim kemarau seperti ini, satwa liar seperti monyet ekor panjang akan keluar habitat hingga ke rumah warga dan mungkin merusak pertanian warga untuk mencari makan dari situ biasanya menimbulkan konflik,” ujar Kepala BKSDA Jawa Tengah, Suharman, Selasa, 21 Agustus 2018.

Ia melanjutkan daerah di Jawa Tengah yang rentan akan kekeringan dan konflik dengan satwa liar seperti monyet ekor panjang yakni seperti Wonogiri, Jepara dan Semarang khususnya Kandri, Gunungpati.

Populasi kera ekor panjang seperti tempat wisata di Goa Kreo Gunungpati, menurut dia, pertumbuhannya populasinya, sehingga ia menyarankan untuk dilakukan kebiri untuk menekan pertumbuhan kera ekor panjang.

“Sudah disarankan untuk dikebiri dengan dimandulkan pada kelaminnya. Namun dari pengelolanya Kreo tidak mau kera-keranya dikebiri,” Beber Suharman.

Dari ketiga daerah di Jawa Tengah tersebut yang rawan akan konflik antar warga dan satwa liar, biasanya warga diimbau untuk mengusir kera tersebut dengan cara diusir.

Sementara itu, Kepala UPTD Goa Kreo Mamit Sumitra menolak saran pengkebirian monyet monyet ekor panjang lantaran keberadaan kera panjang merupakan daya tarik wisatawan untuk datang ke Goa Kreo.

Ia melanjutkan monyet ekor panjang memiliki sifat usil serta mampu merusak hasil pertanian warga jika keluar dari habitatnya. Pihaknya meminta jika terdapat monyet ekor panjang yang menganggu untuk diusir dengan cara menggunakan ketapel.

“Beberapa kali monyet ekor panjang sempat turun ke rumah warga di daerah Talunkancang, Kandri, kami bersama warga mengusir mereka dengan ketapel,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here