BERBAGI
Pazaarseni #5
Pazaarseni #5

Serat.id-Pazaarseni 2018 yang digelar oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase) sengaja mengusung tema Spirit Ki Narto Sabdo. Agenda tahunan pegiat seni Kota Semarang yang digelar pada 31 Agustus hingga 2 September 2018 itu sengaja digelar dengan konsep memfasilitasi para pelaku seni, terutama perupa dengan masyarakat.

“Artinya, Dekase akan berupaya mempertemukan para pelaku seni, yang kini juga disebut sebagai pelaku industri ekonomi kreatif, sedangkan pada masyarakat sebagai penikmat atau konsumen,” kata Panitia Pazaarseni  2018, Adhitia Armitrianto, dalam siaran persnya, Selasa, 28 Agustus 2018.

Kaitan dengan spirit Ki Narto Sabdo, Adhitia menyebut sebagai legenda seniman tradisional yang reformis, pendobrak tatanan seni terutama kesenian Jawa pada masa hidupnya. Selain itu produktivitasnya dalam berkarya juga luar biasa.

“Tercatat selain aktif di Wayang Orang Ngesti Pandowo, Ki Narto Sabdo juga mahir dan sering memainkan wayang kulit serta menciptakan beberapa lagu,” kata Adhitia, menjelaskan.

Spirit Ki Narto Sabdo dalam gawe besar diharapkan bisa membawa semangat pada para seniman terus berkarya dan menghasilkan kreasi yang berguna bagi masyarakat luas.

Tercatat Pazaarseni pertama mampu meraih nilai transaksi yang tinggi. Capaian itu mendorong banyak perupa untuk mengikuti kegiatan yang kedua. Sementara pelaksanaan yang ketiga didominasi oleh komunitas-komunitas seni yang lahir dan berkembang di Kota Semarang.

Menurut Adhitia, Pazaarseni tahun lalu kembali menunjukkan peran vital Dekase dalam pertumbuhan kesenian tak hanya di Kota Semarang saja, tapi juga di Jawa Tengah, bahkan nasional. “Kegiatan keempat itu diikuti beberapa perupa dan komunitas seni dari luar Kota Semarang. Sementara seniman-seniman yang kondang di negeri ini juga ikut berpartisipasi,” kata Adhitia menjelaskan

Tingginya animo itu menunjukkan Pazaarseni telah membangun fondasinya sebagai hajatan kesenian akbar. Sedangkan pelaksanaan kelima bersamaan dengan peringatan peringatan 20 tahun reformasi. Seperti yang diketahui, reformasi merupakan salah satu tonggak perjalanan Indonesia sejak merdeka pada 1945.

Ia menjelaskan panitia sengaja mengambil tema Pazaarseni kali ini tentang Freeformaction yang merupakan bentukan dari beberapa kata yang dimaksudkan untuk memadani Reformasi.

“Semangat reformasi dimunculkan sebagai pengingat bawah kehidupan berkesenian tak bisa lepas dari perjalanan sebuah komunitas tumbuh dan berkembang. Terlebih semangat itu belakangan seolah memudar seiring persoalan lain yang silih berganti hadir,” katanya.

Freeformaction jika didedah merupakan gabungan dari kata-kata free, form, dan action. Kami kemudian lebih senang memaknainya sebagai semangat untuk bebas berkarya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here