BERBAGI
Tahu goreng produksi warga Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (5/9/2018). (Foto Anindya Putri)

Serat.id- Menguatnya dolar Amerika Serikat berdampak terhadap sektor pangan seperti produsen tahu yang mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok pembuatan tahu yakni kedelai impor.

“Akibat kenaikan harga bahan baku tahu yakni kedelai sejak dua bulan terakhir terpaksa mengurangi keuntungan, karena tidak ingin mengurangi kualitas produk,” ujar Pengusaha Tahu asal Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Warsono, 76 tahun, saat ditemui Serat.id, Rabu 5 September 2018.

Ia melanjutkan kenaikan harga kedelai yang telah terjadi sejak sebelum Idul Fitri 2018, di mana kisaran harga kedelai impor per kilogram Rp 6.400 naik perlahan dan kini Rp 7.500 per kilogramnya dengan sekali produksi membutuhkan 1 ton kedelai impor

“Sudah dua bulan terkahir harga kedelai naik dari sebelum Lebaran kemarin, kalau sekarang perkilonya jadi Rp 7.500 tiap kali produksi rata-rata Rp 7,5 juta. Jadi tambah biaya produksi, tapi tetap tidak mengurangi kualitas dan ukuran tahunya,” imbuh dia.

Warsono berharap kepada pemerintah untuk mampu menekan harga bahan baku tahu yakni  kedelai impor asal Amerika Serikat, lantaran dengan tingginya harga kedelai akan menjadi kendala modal bagi para pengusaha sepertinya. Ia mengaku pemasaran tahu olahannya distribusikan ke pasar tradisional yang ada di Kota Semarang.

“Semoga pemerintah bisa menekan harga bahan baku tahu. Kalau harga terus naik pengusaha tahu seperti saya akan kesusahan produksi,” bebernya. (8)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here