BERBAGI
Penangkaran burung langka Desa Wisata Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. (Foto Anindya Putri)

Serat.id- Kelurahan Nongkosawit yang terletak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang memiliki salah satu potensi wisata edukasi, yakni penangkaran burung langka dari berbagai spesies.

Penangkaran burung langka yang berada di tengah perkampungan nan sejuk. Banyak pepohonan rindang di sekitaran penangkaran yang kerap disambangi anak-anak sekolah. Letaknya berada di perbukitan Kota Semarang di bagian selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Semarang.

“Biasanya anak-anak sekolah dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMA datang ke sini untuk mengenal burung langka yang ada di penangkaran Nongkosawit ini. Seminggu bisa ada tiga hingga empat kali kunjungan dari sekolah-sekolah,” ujar pengelola penangkaran burung, Lukman Riwayadi saat ditemui, serat.id, Selasa, 11 September 2018.

Ia melanjutkan penangkaran burung di Nongkosawitada sejak tahun 2016. Meskipun sudah berdiri selama dua tahun ia mengaku tidak ada penjualan burung langka dan hanya dijadikan wahana edukasi kepada masyarakat serta anak-anak sekolah. Terdapat berbagai jenis burung yang ditangkar oleh warga Nongkosawit dan berasal dari beberapa daerah.

Jenis burung yang ditangkar yakni Kacer, Love Bird, Kakatua, Murai, Jalak Kepala Merah dan Jalak Kepala Hitam Hitam. Saat menjelang burung-burung langka tersebut bertelur, pihak pengelola akan menutup penangkaran untuk sementara waktu lantaran ditakutkan akan menganggu perkembangbiakan burung cantik tersebut.

“Di sini ada puluhan burung jika ada beberapa burung yang bertelur kunjungan untuk edukasi sementara kita tutup karena ditakutkan akan menganggu proses pengeraman telur,” Katanya.

Penangkaran burung di Desa Wisata Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. (Foto Anindya Putri)

Larangan Menangkap Burung
Ketua Desa Wisata Nongkosawit, Suwarsono menjelaskan Desa Wisata Nongkosawit sendiri merupakan desa wisata budaya edukasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Semarang sejak tahun 2012. Meski bernama desa, tapi secara administratif, Nongkosawit merupakan kelurahan, karena berada di bawah administrasi perkotaan.

Di desa tersebut terdapat burung-burung liar dan warga mampu mejaga kelestarian ekosistem sekitar wilayah mereka dengan cara tidak menembaki atau menangkap burung.

“Nantinya burung-burung langka tersebut akan kita lepasliarkan di Nongkosawit ini agar bisa dilihat bebas oleh masyarakat serta wisatawan yang datang,” jelas Suwarsono.

Ia melanjutkan Nongkosawit juga sudah ditetapkan sebagai desa ramah burung, sehingga warga setempat maupun warga lain dilarang untuk menangkap atau menembak burung-burung. Ada sanksi bagi warga yang melanggar aturan.

“Pernah ada kejadian orang luar menangkap burung jenis emprit di sini sebanyak 6.000 ekor, kita langsung bawa ke kantor polisi karena sudah melanggar aturan. Inikan desa ramah burung,” beber Suwarsono.

Ia melanjutkan juga telah membina dan mengedukasi warga Nongkasawit untuk tidak menangkap atau menembaki burung yang hinggap di sekitar rumah. Selain penangkaran burung sebagai wisata edukasi Nongkosawit juga memiliki wisata alam seperti sawah terasiring, Sungai Kripik, curug serta beberapa hewan liar seperti adanya monyet ekor panjang.

“Karena Nongkosawit telah dijadikan desa wisata dan edukasi kita punya pedoman untuk menjaga kelestarian alam. Tidak hanya penangkaran yang dikembangkan ke depannya, wisata alam di sini juga akan dikembangkan lagi untuk wisata dan mengedukasi masyarakat luas terkait kelestarian alam,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here