BERBAGI
Peserta Aksi Kamisan Semarang bersolidaritas terhadap pemungkaman pers di depan kompleks Gubernuran Jawa Tengah, di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis, 13 September 2018. (Foto: dokumentasi)

Serat.id- Aktivis berbagai organisasi masyarakat sipil di Kota Semarang yang tergabung dalam Aksi Kamisan Semarang bersolidaritas terhadap pelaporan jurnalis serat.id, Zakki Amali. Ia dilaporkan ke polisi terkait pemberitaan seputar isu plagiasi di kampus Kota Semarang.

Aksi yang diikuti 20 orang tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 sampai pukul 17.30 di depan kompleks Gubernuran Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Kota Semarang, Kamis, 13 September 2018. Peserta seperti pada Aksi Kamisan sebelumnya, membawa payung hitam tertulis ‘lawan gelap’ dan ‘hidup korban’ berdiri mematung dengan memegangi payung.

Satu-persatu peserta bergantian orasi terkait dengan persoalan yang sedang menjadi tema dalam Aksi Kamisan itu. Salah satu aktivis, Tara mengatakan, tindakan represif terhadap wartawan harus dihentikan. Setiap sengketa pemberitaan harus ditangani oleh Dewan Pers, bukan kepolisian.

“Pelaporan jurnalis ke polisi terkait pemberitaan adalah bentuk kriminalisasi pers. Ini bertentangan dengan hak asasi manusia terkait upaya memenuhi informasi yang dijamin oleh undang-undang,” kata dia.

Ia juga menyampaikan, jurnalis mempunyai hak untuk memberikan informasi kepada publik yang berhak tahu terkait sebuah dugaan kejahatan yang ditutup-tutupi.

“Kebebasan pers dijamin oleh undang-undang. Kita harus mendorong pemerintah untuk menjaminnya. Jangan sampai masalah pemberitaan dilawan dengan pelaporan ke kepolisian,” ungkap dia.

Selain itu, isu yang diangkat dalam aksi juga terkait dengan pelaporan seorang aktivis dengan tuduhan penganiayaan. Tara mengungkapkan, aktivis itu tidak menganiaya. Ia hanya melindungi orang yang ada di depannya, sehingga merangkul seseorang yang kemudian melaporkannya ke polisi.

“Kami tidak tinggal diam terhadap upaya pembungkaman hak-hak publik dan hak asasi manusia,” imbuh dia.

Aksi Kamisan Semarang yang kali pertama digelar di Kota Semarang pada Desember 2017 merupakan upaya organisasi masyarakat sipil di Kota Semarang menyuarakan tindakan represif, pembungkaman, kriminalisasi dan kejahatan hak asasi manusia.

“Kami setiap kamis sore menggear aksi untuk menyuarakan pelbagai isu tersebut,” ungkap dia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here