BERBAGI
Singkong Keju D9 (M. Ainul Yaqin).
Singkong Keju D9 (M. Ainul Yaqin).

Cuaca mendung menyelimuti langit Salatiga sore itu, disertai angin yang merangkul tubuh. Sebuah kedai di Jalan Argowiyoto 8A, Ledok, Argomulyo ABC, Kota Salatiga terlihat sangat ramai. Letaknya memang tak jauh dari pusat kota, kita hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 7 menit. Jalan aspal yang sempit, serta minimnya lahan parkir, nyatanya tak menyurutkan niat orang untuk mampir.

Singkong Keju D-9, nama kedai itu, memang berada di pemukiman penduduk. Saya pun masuk ke dalam kedai itu. Mulanya saya kaget saat melihat berbagai jenis narkotika, jarum suntik, serta alat hisap sabu yang dipajang pada etalase berukuran 60×60 cm2. Saya lantas bertemu dengan Hardadi, seorang pria paruh baya sang pemilik kedai. Sambil duduk bersila, ia mengatakan jika hiasan di etalase itu merupakan pengingat masa lalunya.

“Jadi di tahun 2009 itu saya baru keluar dari Rutan Surakarta. Sementara dua anak saya, sudah sekolah dan yang satu lagi masih kecil. Saya harus menghidupi mereka. Kalau saya kembali lagi ke kehidupan saya dulu itu nggak mungkin. Di situ akhirnya saya berpikir bagaimana cara saya berjuang menghidupi keluarga,” ungkap pria kelahiran Sragen itu.

Sebenarnya, usaha singkong keju itu sudah ia pikirkan sejak di dalam rutan. Bahan baku melimpah menjadi pertimbangan utama saat itu. Apalagi di Salatiga belum ada penjual singkong keju.

“Makanan ini kan sebenarnya makanan jadul. Makanan yang kurang ada harganya. Tetapi saya ingin singkong menjadi makanan kekinian. Makanya aku mencoba berinovasi,” tutur Hardadi.

Rupanya usaha itu tak semulus yang dibayangkan. Hardadi memulai usaha dengan menjadi pedagang kaki lima di Alun-alun Pancasila, Kota Salatiga. Selain itu, ia juga pernah membuka warung makan dan jus buah di sekitar rumahnya. Dari hasil penjualan nasi, Hardadi mengumpulkan uang untuk membeli minyak, singkong, dan keju.

Hiasan di etalase outlet Singkong Keju D9 yang mengingatkan Hardadi akan masa lalunya (M. Ainul Yaqin).
Hiasan di etalase outlet Singkong Keju D9 yang mengingatkan Hardadi akan masa lalunya (M. Ainul Yaqin).

Bapak tiga anak ini terus bereksperimen dengan ketiga bahan dasar tersebut. Setelah dirasa enak, pria berusia 47 tahun ini baru berani menjual produknya.

“Awal saya jualan singkong keju ini masih di rumah. Belum lewat outlet seperti saat ini. Semua kontak yang ada di HP saya sms semua. Mulai dari teman, saudara, hingga tetangga. Siapa yang mau beli singkong meskipun hanya lima ribu rupiah saja, saya antar sampai rumah,” kata dia.

Kini, usaha keras Hardadi mulai menuai hasil. Dalam ruang beratap terpal biru, saya melihat 5 orang laki-laki dan 6 perempuan duduk di kursi plastik kecil secara melingkar, sambil sesekali terdengar tawa. Mereka adalah karyawan Singkong Keju D-9.

Di depan mereka, saya melihat pisau dapur berjajar, yang menjadi piranti pengupas tumpukan singkong. Para pria bertugas mengupas kulit singkong, sedangkan karyawan perempuan membersihkan hasil kupasan. Di dekatnya, saya melihat 2 kolam berukuran 2 x 2 meter berisi air untuk membersihkan gumpalan tanah yang menempel pada daging singkong yang telah dikupas.

Di luar, terlihat sebuah mobil pick up datang membawa 1,8 ton singkong, dan disambut oleh 2 orang pekerja yang siap memasukkan singkong itu ke dalam bronjong (wadah) yang terbuat dari anyaman bambu. Lalu seorang diantara mereka memikul untuk dinaikkan ke timbangan, dan seorang lainnya memeriksa berat singkong-singkong itu.

Ingin menjaga kualitas.

Selain gerai Singkong Keju D-9, Hardadi juga membuka Café Telo disebelah tokonya. Kedua bisnisnya itu buka dan beroperasi setiap Senin hingga Minggu. Bedanya, untuk outlet ia buka sejak pukul 06.00 sampai pukul 18.00, sedangkan cafénya baru dibuka pukul 07.00 dan tutup pada pukul 22.00.

Setiap hari, setidaknya ada 300 pembeli yang datang dan siap memilih 15 variasi singkong yang ditawarkan seperti Keju Original, Singkong Keju Coklat, Singkong Sambal Matah, Pancake Telo, Burger Telo, Kolak Telo, Cream Sup Telo, dan macam-macam olahan singkong lainnya. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp. 1.500,- sampai Rp. 22.000,-.

Sebenarnya Hardadi ingin membuka cabang usaha di kota lain, tapi dia was-was sebab pasokan singkong yang kurang stabil. Selain itu, Hardadi juga belum bisa menjaga kualitas singkong karena bahan yang diambil dari alam dipengaruhi oleh iklim.

“Sebenarnya saya pengennya singkong ini kayak produk KFC. Hanya berbahan baku dari ayam tapi bisa buka cabang dimana-mana. Mungkin singkong juga bisa, pikir saya dulu begitu,” tuturnya sambil tersenyum.

Suasana di Cafe Telo (M. Ainul Yaqin).
Suasana di Cafe Telo (M. Ainul Yaqin).

Melihat pasokan bahan baku yang ada, Hardadi kerap terpaksa meliburkan rumah produksi beserta ratusan karyawannya.
Saat ini, Hardadi biasa mendapat suplai singkong dari Salatiga. Tapi saat pasokan singkong kurang, Hardadi mendatangkan bahan baku dari Wonosobo, Magelang, Ngablak, dan kota lainnya. Setidaknya dalam sehari Singkong Keju D-9 dan Café Telo membutuhkan 3 hingga 5 ton singkong. Saat liburan panjang, ia harus menyediakan 6 ton bahan baku.

Beberapa jenis bahan baku yang digunakan Hardadi adalah singkong Gathutkaca, Bayeman, Kaporo, Singkong Ketam, dan Singkong Item, “Cuma kadang nama itu nggak penting juga. Karena yang kita jadikan bahan untuk diolah adalah singkong yang tekstur dagingnya empuk, seperti singkong jenis Gathutkaca yang sering kami gunakan karena tekstur dagingnya yang bagus,” tutur pria brewok itu.

Dalam proses produksinya, Hardadi mengatakan bahwa tak ada bumbu spesial dalam singkong olahannya. Bahkan semua karyawan tau cara memilih dan memasak singkong di tempat usahanya itu.

Awalnya Hardadi cemas saat ada tetangganya yang membuka usaha serupa. Ia khawatir kalah saing karena kala itu Hardadi masih merintis usaha kecil-kecilan. Tapi ia berprinsip bahwa rezeki sudah diatur Tuhan. Karena prinsip ini, Hardadi justru menularkan ilmunya kepada oranglain.

“Kamu sekarang kerja di sini, kalau sudah bisa ingin bikin usaha sendiri, saya persilahkan,” kata itulah yang selalu disampaikan Hardadi pada para karyawannya.

Berkat usahanya, Hardadi juga senang dapat membantu petani singkong yang sempat putus asa. “Seenggaknya saya jadi bisa membantu mereka. Awal-awalnya singkong dihargai 600 rupiah sampai 800 rupiah, sekarang jadi bisa naik menjadi 2000 rupiah lebih,” ungkapnya.

Mempekerjakan bekas narapidana

Hardadi tak menampik adanya stigma dari masyarakat ketika mantan narapidana berjualan di lingkungannya. Namun tak sedikit juga masyarakat yang memberinya semangat, sehingga dirinya bisa berubah seperti sekarang.

Pekerja memindahkan singkong yang baru datang (M. Ainul Yaqin).
Pekerja memindahkan singkong yang baru datang (M. Ainul Yaqin).

Pengalaman di rutan dulu memberi hikmah bagi Hardadi. Kini setiap Selasa pagi, Hardadi bersama teman-temannya pergi ke rutan Salatiga untuk belajar mengaji bersama. Tak hanya itu, sekarang di tempat usahanya dia pun mempekerjakan beberapa orang mantan narapidana.

“Mereka itu sebenarnya hanya perlu kita rangkul, agar sebisa mungkin keluar dari rutan tidak mengulangi perbuatannya kembali. Bahkan saya ajak mereka untuk belajar membuat olahan singkong. Saya fasilitasi mereka selama satu bulan di sini sampai bisa. Agar nantinya setelah dari sini mereka bisa membuat usaha sendiri,” tuturnya.

Meski tak mengetahui secara pasti omzet dari outletnya, namun Hardadi bangga karena Singkong Keju D-9 dikenal di berbagai daerah dan instansi. Bahkan Hardadi menceritakan jika gerainya itu pernah dikunjungi oleh pelajar asal Jerman.

(M. Ainul Yaqin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here