BERBAGI
Proses rekontruksi pembunuhan di kawasan Sunan Kuning, Kota Semarang, Selasa, 18 September 2018. (Anin)

Serat.id – Puluhan warga di kawasan Sunan Kuning Kota Semarang yang ikut menonton rekontruksi pembunuhan di wisma Mr.Classic, Selasa 18 September 2018, mengaku geram. Perasaan itu dirasakan saat melihat tersangka berinisial D, yang sebelumnya membunuh Ayu Sinar Agustin, kawasan tersebut.

“Kalau berani buka topengnya, hukum mati aja pak,” ujar seorang wanita disela-sela rekontruksi berlangsung.

Kapolsek Semarang Barat , Komisaris Donny Eko Listianto menyatakan rekontruksi semakin memperjelas kejadian dari awal mula pelaku datang hingga membunuh korban. “Total ada 29 adegan, mulai pencekikan hingga korban dan minta tolong ada di adegan 10 dan 11,” Donny .

Tercatat seorang penghuni kawasan Sunan Kuning Ayu Sinar Agustin atau akrab dipanggil Ninin ditemukan tewas tanpa busana oleh penghuni wisma Mr.Classic pada pukul 14.20 WIB, Kamis sore, 13 September lalu.

Baca juga: Masih Bocah, Tersangka Pembunuhan Ini Juga Pernah Membegal

Sedangkan pelaku berinisial D, 16 tahun ditetapkan menjadi tersangka, setelah sejumlah bukti dan saksi dikumpulkan polisi. Menurut  Donny,  tidak ada tambahan barang bukti baru selama proses rekontruksi berlangsung.

Temuan polisi masih sama dengan pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya usai D ditangkap di kediamannya di wilayab kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang pada Sabtu 15 September lalu.

“Tersangka melakukan pembunuhan dengan cara mencekik korban hingga tewas dan menyiramnya dengan oli bekas. Dari barang bukti kami temukan botol oli yang bawa tersangka,” katanya.

Tersangka D yang masih anak-anak dijerat dengan pasal 340 subsider 365 KUHP dengan ancaman pidana mati. Sebelumnya tersangka D juga pernah bermasalah dengan pihak kepolisian saat usianya masih 14 tahun melakukan pembegalan di kawasan Boja.

“Jadi sebelumhya D juga pernah melakukan pembegalan di daerah Boja saat usinya 14 tahun dan masih dibawah umur,” kata Donny menjelaskan.

Pembimbing Kemsayarakatan BAPAS ( Balai Permasyarakatan ) Kelas I Semarang, Falikha Ardriani menjelaskan tindak pidana D yang masih dibawah umur akan dilakukan sesuai tindak pidana anak. Ia akan meminta rekomendasi untuk hakim terhadap perkara si anak dan setelah proses hukum selesai D akan berada di lembaga permasyarakatan anak.

“Kami upayakan dari perkara si D yang masih terhitung dibawah umur bisa terpenuhi hak-haknya selama proses pidana,” kata Falikha.

Hak-hak itu meliputi makan dan minumnya termasuk bertemu dengan orang tua selama di lembaga permasyarakatan setelah usai proses hukum. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here