BERBAGI
Nurul, dokter jalanan mengendarai sepeda motor bersiap menuju rumah pasien dari posko Ambulan Hebat Kota Semarang di Puskesmas Pandanaran, komplek GOR Tri Lomba Juang, Kota Semarang, Senin, 1 Oktober 2018. (Foto Anindya Putri).

Serat.id- Berbeda dengan profesi seorang dokter pada umumnya yang bekerja di sebuah rumah sakit, Nurul Afifah, 28 tahun, dokter muda asal Kaliwungu, Kendal ini memilih menjadi dokter jalanan.

Ia merawat dan menghampiri pasien dalam kondisi darurat dengan menggunakan sepeda motor. Nurul merupakan satu dari sepuluh dokter jalanan yang tergabung dalam regu Ambulan Hebat milik Pemerintah Kota Semarang.

Ambulan Hebat yang digagas sejak tahun 2016 sebelumnya hanya menggunakan mobil ambulan untuk mendatangi pasien.

Sejak bulan Juli 2018 terdapat ambulan motor yang diperuntukan menyambangi pasien di daerah-daerah mobil susah masuk seperti gang-gang sempit.

“Saya sudah dua tahun ini bergabung dengan Ambulan Hebat. Dulunya kan masih pakai mobil sekarang sudah ada ambulan motor. Saya lebih memilih motor karena lebih efektif dan bisa menghampiri pasien ke tempat yang susah dijangkau,” ujar dia kepada serat.id, Senin, 1 Oktober 2018.

Pasien yang didatangi Nurul dan timnya beragam kondisinya mulai dari korban kecelakaan lalu lintas, ibu Hamil, sesak nafas, serangan jantung bahkan mahasiswa yang alami kejang-kejang di kampus.

“Itu biasanya mereka yang tidak dapat ke klinik atau rumah sakit terdekat,” kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Agung Semarang ini.

Sepeda motor yang ditunggani berjenis matic dengan tiga boks berisi pelbagai perlengkapan dasar dokter. Dalam sehari, tim ini dibagi ke dalam tiga jadwal dalam melayani masyarakat dengan durasi per jadwal delapan jam kerja.

Mereka dibantu oleh 25 perawat yang tersebar di lima posko puskesmas yakni Halmahera, Karangmalang, Srondol, Bangetayu dan Pandanaran.

“Kita sebagai dokter juga harus siap siaga 24 jam dalam melayani masyarakat. Apalagi ini kan kita yang menghampiri pasien,” tutur Nurul.

Kesulitan yang dialami sehari-hari saat harus mencari alamat pasien dan hanya bermodalkan aplikasi peta online. Ditambah ketika harus berkejar dengan waktu ketika kondisi jalanan macet.

Biasanya dokter jalanan ini juga mendapat bantuan dari relawan yang membukakan jalan supaya mereka mampu berkejar dengan waktu saat mendatangi pasien yang kritis.

“Awalnya ya susah ketika macet gitu tapi lama kelamaan warga sadar tugas dari Ambulan Hebat. Ketika kita lewat ada yang bukain jalan buat kita,” kata dia.

Selama menjadi dokter jalanan Nurul mengaku mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Meskipun tidak bekerja di sebuah instansi rumah sakit dan harus melayani masyarakat dengan menyusur jalanan Kota Semarang dengan menggunakan sepeda motor.

“Orang tua saya tidak mengkritik pilihan saya menjadi dokter jalanan seperti ini karena inikan tugas mulia dan membantu masyarkat,” kata Nurul.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono menuturkan ambulan sepeda motor merupakan terobosan program Pemkot Semarang untuk melayani masyarakat secara langsung dan cepat. Status dokter jalanan itu non aparatur sipil negara.

“Dokter Ambulan Hebat merupakan non ASN. Hanya ada 10 orang dokter yang melamar. Padahal kita butuhnya 25 orang. Kami berikan gaji per bulan sekitar Rp 7 juta,” kata Widoyono. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here