BERBAGI
Herman dan aktivis LBH Semarang melaporkan dugaan intimidasi aparat kepolisian kepada warga di depan PT RUM kepada anggota Seksi Propam Polres Sukoharjo, Rabu, 3 Oktober 2018. (Foto dokumentasi LBH Semarang).

Serat.id- Warga terdampak aktivitas PT RUM Sukoharjo melaporkan anggota Polres Sukoharjo kepada Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Sukoharjo terkait dugaan intimidasi pada Selasa, 2 Oktober 2018.

Pelapor itu, Hirman, warga RT 3 RW 7, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo mengatakan, warga semula memprotes bau menyengat yang ditimbulkan dari aktivitas PT RUM. Warga mengungsi ke berbagai tempat di antaranya di depan halaman PT RUM mulai Selasa, 2 Oktober 2018 sampai Rabu, 3 Oktober 2018 dini hari.

“Sejumlah warga dan pendamping dari LBH Semarang dibawa polisi masuk ke dalam truk. Total ada delapan orang. Ada yang dilempar helm, diseret dan dicekik untuk diamankan ke truk selama satu jam. Setelah itu dilepaskan,” kata Hirman dalam rilis kepada Serat.id, Rabu, 3 Oktober 2018.

Herman menambahkan, pendamping dari LBH Semarang, Alvin diambil kartu identitasnya, kunci kendaraannya tanpa alasan yang jelas oleh aparat. Setelah dibawa polisi, warga dilepaskan.

“Tindakan aparat itu tidak beretika sebagaimana seharusnya polisi dan tidak menghormati hak asasi manusia. Kami korban justru diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat TNI dan Polisi,” ujar dia.

Aktivis LBH Semarang, Mazaya Latifasari mengatakan,
tindakan represif aparat tersebut dinilai bertentangan dengan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Warga sebetulnya menuntut agar PT RUM berhenti beroperasi, karena ada bau menyengat. Tapi tidak diindahkan lalu warga mengungsi. Kami meminta pengusutan intimidasi dan penghentian operasional PT RUM,” imbuh dia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here