BERBAGI
Ilustrasi skorsing Julio/Serat.id

Serat.id- Kasus skorsing Julio Belnanda Harianja, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri (Unnes) Semarang berbuntut panjang. Mahasiswa angkatan 2013 ini menempuh jalur hukum setelah skorsing berjalan tiga bulan.

Julio mengatakan, gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang telah melewati proses dialog dengan pihak rektorat Unnes, tapi tidak ada kepastian titik temu.

“Mereka bilang agar saya minta maaf saja lalu skorsing dicabut. Saya sudah melakukannya lewat surat, tapi di-PHP (dikecewakan-red). Ini seperti mengulur-ulur waktu saja agar waktu SK skorsing lebih dari 90 hari dan saya tak bisa menggugat ke PTUN,” ujar dia kepada Serat.id, Jumat, 5 Oktober 2018.

Baca juga: SK Skorsing Cacat Hukum, Julio Gugat Rektor Unnes ke PTUN

Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama mengatakan, skorsing Julio bisa diselesaikan tanpa harus ada gugatan ke PTUN Semarang. Caranya dengan meminta maaf. Tapi, klaim dia, Julio belum menunjukkan niat baik untuk meminta maaf. Tapi, ia menyatakan kesiapannya untuk melayani gugatan di PTUN.

“Sebab dia kena skorsing kan karena unggahan di media sosial yang menimbulkan keresahan dan agitasi di lingkungan UNNES maupun di tingkat nasional,” kata Hendi dalam siaran pers yang diterima Serat.id.

Baca juga: Solidaritas Kawan Seperjuangan, Mempertanyakan Sikap BEM Unnes

Klaim Hendi tak sepenuhnya benar. Melalui surat tanggal 21 September 2018 yang ditujukan kepada Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, Julio sudah meminta maaf.

Namun, pihak Unnes menjawab melalui surat tanggal 1 Oktober 2018 yang ditandatangani Ketua Dewan Etik Mahasiswa, Ali Masyhar, menyatakan sedang mempertimbangkan pencabutan skorsing dan menyusun draf pernyataan tanpa kejelasan waktu.

“Saya malah mendapatkan kabar skorsing saya akan diurus setelah pemilihan rektor selesai. Ini tidak nyambung. Tidak ada urusan saya dengan pilrek apalagi unggahan di medsos yang tak terkait akademik,” ujar dia.

Baca juga: Petaka Penentang Kebijakan Kampus

Selama skorsing sejak 29 Juni 2018, Julio kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan dan menuntaskan tugas akhir di Unnes. Dia berusaha berkomunikasi dengan pihak rektorat sejak bulan Agustus sampai Oktober.

“Saya sudah pro aktif komunikasi selama tiga bulan tapi tak ada kejelasan. Mereka mensyaratkan permintaan maaf. Sudah saya buat suratnya, juga tak ada kejelasan. Ini membuat saya yakin untuk menggugat. Kita buktikan di PTUN saja,” imbuh Julio. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here