BERBAGI
Para penyandang disabilitas membatik dengan teknik ciprat untuk memeringati Hari Batik Nasional, Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini, Temanggung, Senin, 1 Oktober 2018. (Foto dokumentasi)

Serat.id– Batik karya penyandang disabilitas asal Kabupaten Temanggung tembus harga Rp 1.8 juta. Hasil lelang Karya batik tradisional yang milik Aditya Dwi Saputr, penyandang disabilitas intelektual yang belajar membatik di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabililitas (BBRSPDI) “Kartini” Temanggung itu di untuk membantu korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala.

“Saya sengaja membuat batik pada peringatan hari batik nasional 2 Oktober 2018, motifnya khusus bertema Sulawesi Tengah,” kata Adit kepada serat.id, Kamis, 11 Oktober 2018.

Ia menyatakan  karya yang dibuat sebagai aksi solidaritas  untuk  korban gempa tsunami. Karyanya itu dilelang oleh  BBRSPDI sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial.

Tercatat lelang yang berlangsung sepekan itu berhasil menembus harga Rp 1.030.000 untuk batik bermotif pulau Sulawesi, sedang batik bermotif Tadulako berupa patung megalitik Sulawesi tengah terjual dengan harga Rp 810 ribu.

Kepala BBRSPDI, Murhardjani mengapresiasi masyarakat yang terketuk hatinya mengikuti lelang. Menurut dia masyarakat yang mengikuti lelang merupakan bagian dari bentuk penghargaan karya seorang penyandang disabilitas intelektual.

“Saya juga menyampaikan apresiasi untuk masyarakat yang berempati membantu saudara kita di palu yang sedang tertimpa musibah” kata Murhardjani.

Selain melelang batik buatan Adit, BBRSPDI juga menjual beberapa stok batik ciprat buatan penerima manfaat (PM) yang lain. Batik ciprat bermotif cipratan biasa itu dijual dengan harga Rp 120 ribu dan boleh dibayar lebih, dari sepuluh batik  terjual lima dan terkumpul donasi sebesar Rp 1.250.000.

“Dana yang terakumulasi akan disumbangkan melalui Posko Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Pelayanan Sosial Anak, Penyandang Disabilitas dan  Lanjut Usia yang ada di Palu,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here