BERBAGI
Warga Desa Nongkosawit, Gunungpati, Kota Semarang menunjukkan hasil kerajinan tangan berbahan biji jenitri, Jumat 12 Oktober 2018. (serat.id/ Anindya Putri)

Serat.id– Desa Wisata Nongkosawit, Gunungpati, Kota Semarang memiliki suvenir unik yang terbuat dari bahan biji jenitri. Warga memungut biji jenitri yang berjatuhan dan menyulapnya menjadi aneka aksesori.

Adalah Rahmat salah satu warga yang diuntungkan dengan adanya bijian itu. Ia mengolah biji jenitri menjadi kalung, gelang dan tasbih. Hasil karyanya itu ia jual sebagai suvenir khas Desa Wisata Nongkosawit. Beberapa warga lainnya juga melakukan hal yang sama.

“Awalnya juga tidak tahu kalau biji jenitri bisa dimanfaatkan,” kata Rahmat kepada serat.id, Jumat 12 Oktober 2018.

Rahmat menceritakan proses pembuatan suvenir miliknya itu. Biji-bijian yang ia pungut di sekitaran pohon jenitri itu ia rendam agar kulit buahnya mengelupas. Setelah kulitnya dibersihkan, lalu dikeringkan. Nilai jual biji jenitri tergantung jumlah goresan yang ada.

“Perlu perlakuan khusus saat memilih biji yang bisa dijual mahal,” ujarnya.

Biji jenitri. (serat.id/ Anindya Putri)

Menurut Rahmat, semakin kecil biji jenitri yang dipakai akan semakin mahal harganya. Hasil karyanya ia banderol mulai dari Rp 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Dia mengatakan,selama ini hail kerajinan itu ia pasarkan melalui media sosial dan pemeran-pemeran kerajinan tangan di berbagai kota.

Rupanya, peminat aksesori berbahan biji jenitri berasal dari berbagai daerah. Rahmat mengatakan, pembelinya berasal dari luar Jawa seperti Bali, Lombok dan Sumatera.

“Kalau pas pameran kita sekalian mengenalkan biji jenitri sebagai suvenir khas Desa Nongkosawit,” kata Rahmat.

Rahmat berharap kerajinan biji jenitri menjadi peluang usaha baru bagi warga Desa Nongkosawit. “Sekaligus mengenalkan Desa Nongkosawit kepada para wisawatan,” katanya.

Pohon jenitri memang telah dibudidayakan oleh warga Nongkosawit sejak 2010. Hingga saat ini sudah ada puluhan pohon jenitri yang tumbuh di beberapa sudut desa. Komunitas Kandang Gunung menggagas penanaman pohon tersebut karena terkenal akan keramahannya dengan burung-burung liar. Adapun bibit jenitri didatangkan langsung dari Kebumen, pusat pohon jenitri terbesar di Pulau Jawa.

Ketua Desa Wisata Nongkosawit, Warsono mengatakan, pohon jenitri mulai berbuah di kisaran umur 4-5 tahun. Tingginya mencapai 20 meter. Buahnya berkulit biru keunguan. Menurut Warsono, buah itu sering disebut Air Mata Dewa Shiwa (Rudraksa). Konon, jenitri merupakan tanaman asli dari India.

“Awalnya warga belum banyak yang tahu kegunaan dari biji jenitri. Kemudian saya coba cari tahu bisa diapakan biji-biji ini? Ternyata bisa dijadikan aksesori dan obat yakni sebagai pengatur metabolisme tubuh,” jelas Warsono.

Setelah tahu kegunaan dan manfaat dari biji jentiri tersebut, Warsono gencar melakukan sosialiasi kepada warga Desa Nongkosawit. Ia juga mendorong warga agar lebih kreatif memberdayakan biji jenitri sebagai bahan baku aksesori.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here