BERBAGI
Suasana Aksi Kamisan “Tolak IMF dan World Bank“ di Kota Malang yang digelar pada Kamis 12 Oktober 2018. Aksi itu setempat dibubarkan oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) DOK. AKSI KAMISAN KOTA MALANG.

Serat.id – Aksi Kamisan “Tolak IMF dan World Bank“ di Kota Malang yang digelar pada Kamis 12 Oktober 2018  di Balai Kota setempat dibubarkan oleh Organisasi Masyarakat (Ormas).  Aksi dimulai pukul 16.30, sekitar dua puluh orang peserta, namun setelah lima menit, tiba-tiba didatangi oleh anggota berseragam Pemuda Pancasila dan pakaian serba putih.

“Sekitar 5 menit ketika orasi, langsung didatangi sama ormas, diminta kita berhenti aksi, cuman ada salah satu kawan aksi tetap dilanjutkan kemudian megaphone langsung dibanting ke jalan,” ujar Rico Tude, seorang  peserta aksi, saat dihubungi serat.id, Jum’at 12 Oktober 2018

Usai megaphone direbut, kata  Rico,  sempat terjadi dorong mendorong antara peserta aksi Kamisan dengan Ormas hingga massa aksi terpojok  dekat pagar Balaikota. Rico  mengatakan sempat ditarik dan terkena pukulan oleh Ormas dengan menggunakan payung milik Aksi Kamisan. Ia mencoba membela diri dengan memukul barik seorang nggota Ormas Pemuda Pancasila hingga terjatuh.

“Tapi saya dikeroyok balik oleh Ormas Pemuda Pancasila.  Frans  (teman peserta aksi) yang  mencoba melindungi saya juga  wajahnya terkena pukulan oleh Ormas hingga terjatuh,” kata Rico menjelaskan.

Dalam keadaan terjatuh, beberapa anggota Pemuda Pancasila terus berusaha memukuli Frans dengan payung hingga melukai lengan kiri Frans.

Selain itu, Rico menjelaskan beberapa massa aksi sempat berlari meminta perlindungan ke dalam balaikota, namun diusir oleh Satpol PP. Menurut Rico,  Faris, salah satu massa aksi yang merekam kejadian sempat ditendang dan handphonenya direbut oleh Ormas.

Usai massa aksi menjauh  sempat mendengar ada teriakan dari Ormas yang menyebut masa aksi merupakan anggota PKI. “Kalian itu PKI, terutama Rico,” ujar Rico menirukan teriakan Ormas.

Komisoner Komnas HAM, Beka Hapsara, menilai pembubaran aksi kamisan oleh ormas bertentangan dengan prinsip demokrasi dan prinsip hak asasi manusia.

“Setiap warga negara punya hak untuk berserikat berkumpul mengeluarkan pendapat,” ujar Beka.

Beka menyayangkan tindakan aparat kepolisian yang gagal mengamankan massa aksi kamisan. Seharusnya aparat kepolisian bertindak dan mencegah pemukulan terhadap peserta aksi.

“Pembubarkan aksi oleh kelompok jelas mengancam peserta aksi kamisan saya kira patut disayangkan,” katanya.

Mengenai ujaran Ormas yang didapat oleh Rico, Beka  menghimbau kepada Ormas dengan tidak menuduh sembarangan, karena mereka menyuarakan kondisi yang ada di negara ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here