BERBAGI
Pengunjung berfoto dengan latar belakang jerami yang membentuk huruf ‘Sabana’ danau Rawa Pening yang mengering, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu, 20 Oktober 2018. (Foto Anindya Putri/Serat.id)

 

Serat.id- Mengeringnya danau Rawa Pening yang terletak di Tuntang, Kabupaten Semarang sejak tiga bulan terakhir memberikan berkah tersendiri bagi warga sekitar yang tinggal di sekitar danau alami tersebut.

Jika biasanya terlihat di sekitaran Rawa Pening banyak ditumbuhi tanaman eceng gondok dan beberapa warga menjala ikan. Kini pemandangan itu tak tampak.

Lantaran menyusutnya air danau rawa pening saat musim kemarau. Beberapa warga terlihat menanami padi di hulu danau, serta banyak wisatawan yang datang untuk berswafoto di atas tanah bekas danau yang kini mengering.

Salah seorang warga, Budiyono menuturkan sudah sejak bulan Juli 2018 danau alami tersebut mengering. Warga menggunakannya untuk berkebun. Tak hanya itu saja, bekas danau yang mengering mulai ditumbuhi oleh rumput liar terhampar. Warga memberi nama Sabana Rawa Pening.

“Danau sekarang jadi ditumbuhi rumput kemudian banyak yang datang ke sini untuk berswafoto. Hamparan rumput hijau yang luas sekali kemudian kita beri nama Sabana,” ujar Budiyono saat ditemui Serat.id, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Remaja sekitar yang berasal dari Dusun Cikal, Tuntang, Kabupaten Semarang, menyulap bekas danau tersebut menjadi area swafoto dengan memberikan ornamen-ornamen untuk menarik minat pengunjung.

“Itukan sekarang jadi Sabana hamparan hijau tanah luas , sama remaja sekitar dikelola jadi wisata dikasih hiasan-hiasan biar pengunjung bisa foto-foto di sana,” Imbuh Budiyono.

Pengunjung berfoto dengan latar belakang perahu di Sabana danau Rawa Pening yang mengering, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu, 20 Oktober 2018. (Foto Anindya Putri/Serat.id

Memanfaatkan Media Sosial

Ia melanjutkan remaja Desa Cikal memperkenalkan Sabana Rawa Pening melalui media sosial untuk menarik minat pengunjung. Beberapa foto di unggah di media sosial mulai Perahu yang mangkrak hingga kursi-kursi kayu yang dihias dengan ilalang.

Untuk sampai ke Sabana pengunjung harus berjalan sekitar 1 kilometer dari tempat parkir. Kemudian dilanjut berjalan ke jembatan biru dan melewati perkebunan warga. Saat akan memasuki Sabana pengunjung akan di kenakan biaya Rp 2.000 per orang untuk sekali masuk.

Letak Sabana dapat dijangkau dari jalan raya Ungaran-Ambarawa yang dapat diakses dari Solo dan Yogyakarta melalui Kota Salatiga. Dari Kota Semarang dapat menjangkau Sabana lewat Ambarawa.n

Salah seorang pengunjung asal Solo, Novarida mengaku mengetahui Sabana dari media sosial Instagram. Ia penasaran dengan mengeringnya Rawa Pening yang kemudian berubah menjadi hamparan hijau sabana yang sangat cantik.

“Thau Sabana Rawa Pening dari Instagram. Katanya Rawa Pening airnya surut jadi kaya gini. Pas libur kuliah main ke sini,” kata dia.

Sementara itu warga lainnnya, Suyanto yang memperoleh rezeki dari berkebun dan berjualan semangka selama tiga bulan terakhir.

Suyanto dan istrinya, penjual semangka dadakan di sekitar Sabana danau Rawa Pening, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu, 20 Oktober 2018. (Foto: Anindya Putri/Serat.id)

Tak perlu waktu lama untuk memanen semangka-semangka yang ia tanam, hanya dengan waktu 2,5 bulan dirinya sudah mampu memanen dan menjual semangka dari hasil berkebun di sana.

“Saya sudah menanam sejak bulan Juli kemarin pas danau sudah surut. Baru aja panen, terus kita jual di sini kebetulan kan sekarang juga banyak yang main ke Sabana,” imbuh pria asal Pati tersebut.

Ia mengaku sekali panen mampu menghasilkan 1 kwintal semangka kuning yang dijual di sekitaran Ambarawa-Salatiga. Jika menjelang akhir pekan, ia dan beserta istri membuka lapak berjualan semangka di sepanjang jalan yang akan menuju ke Sabana. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here