BERBAGI
Kampung Kolang-kaling Jatisari, Mijen, Kota Semarang, Minggu, 28 Oktober 2018. (Foto Anindya Putri/Serat.Id)

Serat.id- Hawa sejuk dan udara menyeruak seketika di antara pepohonan yang rindang.

Di bawah pohon beringin tampak air mengalir dari pancuran dan sebuah kolam yang tak begitu luas. Lokasi itu lama tak tersentuh. Daun-daun berserakan di sekitarnya.

Ya, tempat itu dulunya merupakan sumber air atau sering disebut sendang.

Tak seperti biasanya, pagi itu puluhan warga Kampung Kolang-kaling Jatisari, Mijen, Kota Semarang, menyambangi Sendang Bulungan yang letaknya tak jauh dari pemukiman warga.

Mereka datang ke sendang dengan berjalan kaki dan menggunakan pakaian adat Jawa dengan menggunakan jarik atau kain batik untuk menggelar tradisi Sampar Banyu.

“Warga kampung datang ke sendang untuk melakukan tradisi Sampar Banyu, yakni tilik sendang yang dilakukan rutin setiap tahunnya,” ujar tokoh masyarakat Kampung Kolang-kaling, Suparyadi, Minggu, 28 Oktober 2018.

Ia menceritakan, dahulu orang-orang kampung sebelum memiliki sumur pribadi dan menggunakan PDAM, warga memanfaatkan sendang untuk memenuhi kebutuhan air.

Tradisi Sampar Banyu di Sendang Bulungan dilakukan setiap memasuki bulan Safar dalam penanggalan Jawa. Tradisi itu bentuk penghormatan masyarakat atas adanya sendang yang merupakan sumber air kehidupan bagi warga dahulunya.

Pada kegiatan tersebut, warga juga menanam Pohon Gondang dengan diiringi kesenian lantunan tembang Jawa dan perform art lalu diakhiri doa bersama.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here